PARA MALAIKAT MENOLONG NABI DAN SAHABATNYA DALAM PERANG AL-AHZAB

Desember 2, 2008

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya.

Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan (al-Ahzab:9). Al-Allamah bin Katsir berkata, “Allah SWT berfirman memberitahukan nikmat, keutamaan, dan kebaikan-Nya yang telah dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dalam menghadapi dan mengalahkan musuh-musuhnya pada saat mereka terkepung.

Hal itu terjadi pada tahun Khandaq, bulan Syawal tahun kelima Hijriah dalam pendapat yang sahih dan masyur.”Musa bin Aqabah dan lain-lainnya berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi pada tahun keempat Hijriah.

Adapun yang menjadi menjadi sebab pengepungan tersebut adalah bahwa seorang pemuka Yahudi banin Nadhir yang telah diusir Rasulullah saw. dari kota Madinah ke Khaibar, di dalamnya termasuk Salam bin Abi al-Haqiq, Salam bin Masykam dan Khanah ibnar Rabi’, keluar menuju kota Mekah. Mereka berkumpul dengan para pemuka Quraisy dan membujuk mereka untuk memerangi Rasulullah saw. dan menjanjikan kemenangan serta bantuan dari kelompok mereka sendiri. Kaum Quraisy menyetujui usulan mereka dan bersama-sama keluar untuk mengajak kaum Ghathfan bergabung.

Mereka juga menyepakati usulan tersebut. Setelah itu, kaum Quraisy keluar bersama para sekutunya dibawah pimpinan Abu Sufyan Shakhar bin Harb, dan kaum Ghathfan dibawah pimpinan Uyainah bin Hushun bin Badar dengan kekuatan sebesar sepuluh ribu orang.Begitu Rasulullah saw. mendengar bergeraknya mereka untuk melakukan penyerangan, beliau segera memerintahkan kaum muslimin untuk menggali khandaq (lubang) di sekitar kota Madinah yang berhadapan ke timur kota. Hal itu beliau lakukan atas saran Salmah al-Farisi r.a. Dengan penuh ketekunan kaum muslimin bersama Rasulullah saw. bekerja keras menggali dan memindahkan tanah serta batu-batu.

Beberapa waktu kemudian, kaum musyrikin datang membuat kamp di sebelah timur kota di dekat Uhud. Lalu salah satu kelompok dari mereka turun ke dataran tinggi kota Madinah, sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, “(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan bawahmu.” (al-Ahzab:10) Rasulullah saw. keluar bersama kaum muslimin yang berkekuatan sekitar 3000 orang, ada yang mengatakan 700 orang.

Mereka menyandarkan punggung masing-masing ke bongkahan batu/tanah. Sementara, wajah mereka menghadap ke arah datangnya musuh. Sedangkan khandaq di depan mereka tidak lebih dari sebuah lubang tanpa air yang memisahkan antara mereka dan menghalangi pasukan berkuda dan pejalan kaki untuk sampai kepada mereka, serta menempatkan kaum wanita dan anak-anak di dalam benteng kota.Bani Quraizhah adalah salah satu kelompok Yahudi yang memiliki benteng di sebelah timur kota Madinah dan terikat perjanjian serta jaminan dengan Rasulullah saw.

Jumlah kekuatan mereka sekitar 800 laskar. Lalu Huyai bin Akhthab an-Nadhari pergi menemui mereka dan membujuknya untuk bersama-sama menyerang Rasulullah saw. Ia tidak beranjak dari sana hingga mereka mengkhianati perjanjian yang dibuatnya dan bergabung mengepung Rasulullah saw. dan kaum muslimin.

Kini urusannya semakin besar, persoalan semakin rumit, dan keadaan semakin kritis, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Di situlah diuji orang-orang mukmin, dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat dasyat.” (al-Ahzab:11) Mereka tetap tinggal di sana melindungi Rasulullah saw. dan para sahabatnya selama hampir satu bulan. Hanya saja kaum musyrikin belum sampai kepada mereka dan tidak terjadi pertempuran antara mereka.Lalu Amrun bin Abdi Wuddin al-’Amri salah seorang pasukan berkuda dan pahlawan pemberani yang tersohor pada zaman jahiliah, bersama beberapa orang prajurit berkuda melintasi khandaq dan berhasil menuju ke arah kaum muslimin. Rasulullah saw. segera memerintahkan beberapa prajurit berkuda untuk menghadapinya. Namun, tidak ada seorangpun yang menuruti perintahnya. Lalu beliau memerintahkan Ali bin Abi Thalib r.a. yang segera keluar menghadapinya.

Untuk beberapa saat keduanya bertempur hingga akhirnya Ali bin Abi Thalib berhasil membunuhnya. Dan ini adalah pertanda kemenangan. Lalu Allah mengirimkan angin topan yang berhembus sangat dasyat ke arah para pengepung hingga tidak ada sebuah tenda pun yang tersisa dan tanpa nyala api.

Akhirnya, mereka semua lari meninggalkan ketakutan dan menderita kerugian, sebagaiman firman Allah SWT. “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” (al-Ahzab:9)

Firman Allah SWT, “Wa junuudun lam tarauhaa,” menurut Ibnu Katsir adalah para malaikat yang membuat mereka (kaum musyrikin) terguncang dan menyusupkan rasa kaget dan takut ke dalam hati mereka. Pada saat itu, setiap kepala kabilah berkata, “Wahai bani Fulan kemarilah kepadaku.” Dan mereka pun berkumpul kepadanya dan berkata, “Keselamatan, keselamatan” karena Allah menimpakan ketakutan ke dalam hati mereka.

Kisah Musa dan Khidhir

November 11, 2008

Pengantar

Kisah Musa dengan Khidhir yang disebutkan dalam surat Al-Kahfi termasuk kisah yang utama. Musa pergi dari kotanya untuk mencari ilmu ketika Tuhannya memberitahukan kepadanya bahwa di bumi ini terdapat seseorang yang lebih alim(pandai) darinya. Dalam sunah nabi terdapat tambahan keterangan dari apa yang disebutkan oleh Al-Qur’an. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyampaikan kepada kita sebab perginya Musa dari kotanya, sebagaimana beliau menyampaikan kepada kita tentang nama hamba shalih yang dicari-cari Musa, dan sebagian dari ucapannya dan keadaannya.

Teks Hadis

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih keduanya, dari Said bin Jubair. Ia bercerita, “Aku pernah mengatakan kepada Ibnu Abbas bahwa Nauf Al-Bikali mengatakan bahwa Musa, sahabat Khidhir tersebut, bukanlah Musa dan sahabat Bani Israil. Maka Ibnu Abbas pun berkata, “Musuh Allah itu telah berdusta.” Ubay bin Kaab pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Musa pernah berdiri memberikan ceramah kepada Bani Israil, lalu ia ditanya, ‘Siapakah orang yang paling banyak ilmunya?’ Ia menjawab, ‘Aku.’ Maka Allah mencelanya, karena ia tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya. Lalu Allah mewahyukan kepadanya, ‘Sesungguhnya Aku mempunyai seorang hamba yang berada di tempat pertemuan dua laut, yang ia lebih berilmu daripada dirimu.’ Musa berkata, ‘Ya Tuhanku, bagaimana bisa aku menemuinya?’ Dia berfirman, ‘Pergilah dengan membawa seekor ikan, dan letakkanlah ia di dalam keranjang. Di mana ikan itu hilang, maka di situlah Khidhir itu berada.’

Maka Musa mengambil seekor ikan dan meletakkannya di dalam keranjang. Lalu dia pergi bersama seorang pemuda bernama Yusya’ bin Nun. Ketika keduanya mendatangi batu karang, keduanya merebahkan kepala mereka dan tertidur. Ikan itu menggelepar di dalam keranjang, hingga keluar darinya dan jatuh ke laut. “Kemudian ika itu mengambil jalannya ke laut.” (Al-Kahfi: 61). Allah Subhanahu wa Ta’ala menahan jalannya air dari ikan itu, maka jadilah air itu seperti lingkaran. Kemudian sahabat Musa (Yusya’) terbangun dan lupa memberitahukan kepada Musa tentang ikan itu. Mereka terus menempuh perjalanan siang dan malam. Pada keesokan harinya Musa berkata kepada pemuda itu, “Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.”‘ (Al-Kahfi: 62). Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyebutkan bahwa Musa tidak merasa kelelahan sehingga ia berhasil mencapai tempat yang ditunjukkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka sahabatnya itu berkata, “Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.” (Al-Kahfi: 63). Beliau berkata, “Ikan itu memperoleh jalan keluar, tetapi bagi Musa dan sahabatnya, yang demikian itu merupakan kejadian yang luar biasa.” Maka Musa berkata kepadanya, “Itulah (tempat) yang kita cari.’ lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.” (Al-Kahfi: 64).

Lebih lanjut, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menceritakan, “Kemudian mereka berdua kembali lagi mengikuti jejak mereka semula hingga akhirnya sampai ke batu karang. Tiba-tiba ia mendapati seseorang yang mengenakan pakaian rapi. Musa mengucapkan salam kepadanya. Khidhir pun berkata, ‘Sesungguhnya aku mendapatkan kedamaian di negerimu ini.’ ‘Aku Musa,’ paparnya. Khidhir bertanya, ‘Musa pemimpin Bani Israil?’ Musa menjawab, ‘Ya.’ Aku datang kepadamu supaya engkau mengajarkan kepadaku apa yang engkau ketahui. Khidhir menjawab, ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.’ (Al-Kahfi: 67). Hai Musa aku mempunyai ilmu yang diberikan dari ilmu Allah. Dia mengajariku hal-hal yang tidak engkau ketahui. Dan engkau pun mempunyai ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadamu yang tidak kumiliki. “Maka Musa berkata, ‘ Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.’” (Al-Kahfi: 69). Maka Khidhir berkata Musa, “Janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”. (Al-Kahfi: 70).

Maka berjalanlah keduanya. Mereka berjalan menelusuri pantai, hingga akhirnya sebuah perahu melintasi keduanya. Lalu keduanya meminta agar pemiliknya mau mengantarnya. Mereka mengetahui bahwa orang itu adalah Khidhir. Mereka pun membawa keduanya tanpa upah. Ketika keduanya menaiki perahu itu, Musa merasa terkejut karena Khidhir melubangi perahu tersebut dengan kapak. Musa pun berkata, “Orang-orang itu telah membawa kita tanpa upah, tetapi engkau malah melubangi perahu mereka, “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.” (Al-Kahfi: 71).

“Dia (Khidhr) berkata, ‘Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.’” (Al-Kahfi: 72).

“Musa berkata, ‘Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.’” (Al-Kahfi: 73).

Kemudian Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Yang pertama itu dilakukan Musa karena lupa. Lalu ada burung hinggap di tepi perahu dan minum sekali atau dua kali patokan ke laut. Maka Khidhir berkata kepada Musa, ‘Jika ilmuku dan ilmumu dibandingkan dengan ilmu Allah, maka ilmu kita itu tidak lain hanyalah seperti air yang diambil oleh burung itu dengan paruhnya dari laut.’

Setelah itu keduanya keluar dari perahu. Ketika keduanya sedang berjalan di tepi laut, Khidhir melihat seorang anak yang tengah bermain dengan anak-anak lainnya. Maka Khidhir menjambak rambut anak itu dengan tangannya dan membunuhnya. Musa berkata kepada Khidhir, ‘Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena Dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.’ Khidhr berkata, ‘Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?’ (Al-Kahfi: 74-75). Yang kedua ini lebih parah dari yang pertama.

Musa berkata, ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, Maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku.‘ (Al-Kahfi: 76).

Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, Maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata, ‘Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.‘ (Al-Kahfi: 77).-yakni, miring. Lalu Khidhir berkata dan, ‘Khidhir menegakkan dinding itu,’ dengan tangannya. Selanjutnya Musa berkata, ‘Kita telah mendatangi suatu kaum tetapi mereka tidak mau menjamu kita dan tidak pula menyambut kita, ‘Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.’ (Al-Kahfi: 77). Khidhr berkata, ‘Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.’” (Al-Kahfi: 78).

Kemudian Rasulullah bersabda, “Kami ingin Musa bisa bersabar sehingga Allah menceritakan kepada kita tentang keduanya.”

Said bin Jubair menceritakan, Ibnu Abbas membaca, “Dan di hadapan mereka terdapat seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera yang baik dengan cara yang tidak benar.” (Al-Kahfi: 79). Ia juga membaca seperti ini, “Dan adapun anak itu, maka kedua orang tuanya adalah mukmin.” (Al-Kahfi: 80).

Dalam riwayat lain dalam Shahihain dari Said bin Jubair berkata, “Kami sedang bersama Ibnu Abbas di rumahnya. Dia berkata, ‘Bertanyalah kalian kepadaku.’ Aku berkata, ‘Wahai Ibnu Abbas, semoga Allah menjadikanku sebagai penggantimu. Di kufah terdapat seorang tukang cerita yang bernama Nauf. Dia mengklaim bahwa dia bukan Musa Bani Israil. Adapun Amru, dia berkata kepadaku, ‘Musuh Allah telah berdusta.’ Adapun Ya’la, dia berkata kepadaku, dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Musa Alaihi Salam suatu hari dia menasehati kaumnya sampai ketika air mata bercucuran dan hati menjadi lunak, dia pulang. Seseorang laki-laki menyusulnya, dia berkata Musa, ‘Wahai Rasulullah, apakah di bumi ini terdapat orang yang lebih alim darimu?’ Musa menjawab, ‘Tidak ada.’ Maka Allah menyalahkan Musa yang tidak mengembalikan ilmu kepada Allah. Dikatakan kepada Musa, ‘Ada yang lebih alim darimu.’ Musa bertanya, ‘Ya Tuhanku, di mana?’ Allah menjawab, ‘Di tempat bertemunya dua laut.’

Musa berkata, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah untukku sebuah tanda yang bisa aku kenal.”‘ Amru berkata kepadaku bahwa Allah menjawab, “Di tempat di mana ikan meninggalkanmu.” Ya’la berkata kepadaku bahwa Allah menjawab, “Ambillah ikan yang telah mati yang bisa ditiupkan ruh kepadanya.” Maka Musa membawa ikan dan meletakkannya di dalam keranjang. Musa berkata kepada pelayannya, “Aku tidak membebanimu apa pun kecuali kamu harus memberitahuku jika ikan itu lepas darimu.” Pelayan menjawab, “Bukan beban berat.” Itulah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya.” (Al-Kahfi: 60). Dan murid tersebut adalah Yusya’ bin Nun. Riwayat ini bukan dari Said.

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam meneruskan, “Manakala Musa berteduh di bawah batu besar di tempat Tsaryan (yang basah), tiba-tiba ikan itu berontak, sementara Musa sedang tidur. Maka muridnya berkata, ‘Aku tidak akan membangunkannya.’ Tetapi ketika Musa bangun, dia lupa memberitahukan kepadanya. Ikan itu berontak hingga melompat ke laut. Allah menahan jalannya air dari ikan itu sehingga bekasnya seolah-olah di batu.” Amru berkata kepadaku bahwa bekasnya seolah-olah di batu. Amru melingkarkan antara kedua ibu jarinya dan kedua telunjuknya.

“Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.” (Al-Kahfi: 62). Dia berkata, “Allah telah menghentikan keletihan darimu.” Riwayat ini bukan dari Said. Yusya’ memberitahu Musa, lalu keduanya pun kembali dan menemukan Khidhir. Usman bin Abu Sulaiman berkata kepadaku, “Khidhir duduk di atas permadani hijau di tengah laut.” Said bin Jubair berkata, “Berselimut kain, salah satu ujungnya di bawah kakinya dan ujung lainnya di bawah kepalanya.” Musa mengucapkan salam kepadanya. Khidhir membuka wajahnya dan berkata, “Apakah di negerimu ada keselamatan? Siap kamu?” Musa menjawab, “Aku adalah Musa.” Khidhir bertanya, “Musa Bani Israil?” Musa menjawab, “Ya.” Khidhir bertanya, “Apa keperluanmu?” Musa menjawab, “Aku datang agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu.” Khidhir berkata, “Apakah kamu belum merasa cukup? Taurat ada di tanganmu dan wahyu datang kepadamu. Wahai Musa, sesungguhnya aku memiliki ilmu yang tidak sepatutnya kamu ketahui, dan sesungguhnya kamu memiliki ilmu yang tidak sepatutnya aku ketahui.” Lalu datanglah seekor burung yang mengambil air laut dengan paruhnya. Khidhir berkata, “Demi Allah, ilmuku dan ilmumu dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah seperti apa yang diambil burung itu dari laut dengan paruhnya.”

Ketika keduanya naik perahu dan mendapati perahu-perahu kecil yang menyeberangkan penghuni pantai ini ke pantai itu, mereka mengenalnya. Mereka berkata, “Hamba Allah yang shalih.” Dia berkata, “Kami bertanya kepada Said, ‘Khidhir?’ Dia menjawab, ‘Ya.’ Mereka berkata, ‘Kami tidak meminta ongkos.’ Maka Khidhir melubanginya dan menancapkan patok kepadanya.”

Musa berkata, “Mengapa kamu melobangi perahu itu yang berakibat para penumpangnya akan tenggelam. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan kesalahan yang besar.” (Al-Kahfi: 71). Mujahid berkata, “Kemunkaran.” “Khidhir berkata, ‘Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku.’” (Al-Kahfi: 72). Yang pertama dilakukan oleh Musa karena lupa, yang kedua karena syarat, dan yang ketiga adalah kesengajaan.” Musa berkata, “Janganlah kamu menghukumku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebaniku dengan kesulitan dalam urusanku.” (Al-Kahfi: 73).

Keduanya bertemu dengan seorang anak, lalu Khidhir membunuhnya. Ya’la berkata, Said berkata, “Dia mendapatkan beberapa anak sedang bermain, maka Khidhir mengambil seorang anak yang kafir dan tampan, lalu dia membaringkannya dan menyembelihnya dengan pisau.” “Musa berkata, ‘Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih bukan karena dia membunuh orang lain?” (Al-Kahfi: 74).

Dia belum melakukan ingkar sumpah. Dan Ibnu Abbas membaca zakiyah dengan zaakiyah yang muslim, seperti membaca ghulaman zakiyyan.

“Lalu keduanya berjalan, hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, Maka Khidhr menegakkan dinding itu.” (Al-Kahfi: 77). Said memberi isyarat dengan tangannya begini, dia mengangkat tangannya hingga lurus.

Ya’la berkata, “Menurutku Said berkata, ‘Maka dia mengusapnya dengan tangannya dan ia pun lurus.” “Musa berkata, ‘Jika kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.’” (Al-Kahfi: 78).

“Karena di hadapan mereka.” (Al-Kahfi: 79), yakni di depan mereka. Ibnu Abbas membacanya, amaamahum malak. Mereka mengklaim bukan dari Said, bahwa dia adalah Hudad bin Budad, dan anak yang dibunuh –menurut mereka- bernama Jaisur.

“Ada seorang raja yang merampas setiap perahu.” (Al-Kahfi: 79). Maka aku ingin jika ia melewatinya, dia tidak mengambilnya karena cacatnya. Jika mereka telah lewat, maka mereka bisa memperbaiki dan memanfaatkannya. Di kalangan mereka ada yang bilang, “Sumpahlah dengan botol.” Ada yang bilang dengan aspal.

“Kedua orang tua anak itu adalah orang-orang mukmin.” (Al-Kahfi: 80), dan anak itu adalah kafir.

“Dan kami khawatir dia akan mendorong kedua orang tunya kepada kesesatan dan kekufuran.” (Al-Kahfi: 80). Yakni, kecintaan kedua orang tuanya kepadanya membuat keduanya mengikutinya dalam agamanya.

“Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari anak itu.” (Al-Kahfi: 81). Ini sebagai jawaban atas ucapannya, “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih.” (Al-Kahfi: 74).

“Dan lebih berkasih sayang kepada kedua orang tuanya.” (Al-Kahfi: 81). Keduanya lebih sayang kepadanya daripada kepada anak pertama yang dibunuh Khidhir. Selain Said mengklaim bahwa keduanya diberi pengganti anak perempuan. Adapun Dawud bin Ashim, dia berkata dari beberapa orang bahwa penggantinya adalah anak perempuan.

Dalam riwayat ketiga, dari Ubaidillah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud dari Ibnu Abbas bahwa Ibnu Abbas berdebat dengan Al-Hur bin Qais bin Hish Al-Fazari tentang shahib Musa. Ubay bin Ka’ab melewati keduanya, lalu Ibnu Abbas memanggilnya dan berkata, “Aku dan temanku ini berdebat tentang shahib Musa, di mana Musa bertanya tentang jalan untuk bertemu dengannya. Apakah kamu mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyinggungnya?”

Ubay menjawab, “Ya, aku telah mendengar Nabi menyinggungnya. Beliau bersabda, “Ketika Musa sedang bersama pembesar-pembesar Bani Israil, dia didatangi oleh seroang laki-laki. Dia berkata, ‘Apakah kamu mengetahui seseorang yang lebih tahu darimu?’ Musa menjawab, ‘Tidak.’ Maka Allah mewahyukan kepada Musa. ‘Ada, yaitu hamba Kami bernama Khidhir.’ Maka Musa bertanya bagaimana menemuinya. Allah memberinya satu tanda, yaitu seekor ikan. Dikatakan kepada Musa, ‘Jika kamu kehilangan ikan, maka kembalilah, karena kamu akan menemuinya.’ Musa pun menelusuri jejak ikan di laut. Pelayan Musa berkata kepadanya, ‘Tahukah kami ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang ikan itu dan tidak ada yang melupanku untuk menceritakannya kecuali setan.” (Al-Kahfi: 63). “Musa menjawab, ‘Itulah tempat yang kita cari. Lalu keduanya kembali mencari jejak mereka semula.’ (Al-Kahfi: 64). Keduanya bertemu Khidhir dan apa yang terjadi pada keduanya telah diberitakan Allah dalam Kitab-Nya.”

Ketiga hadis di atas adalah riwayat Bukhari.

Takhrij Hadis

Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitabul Ilmi dari Ibnu Abbas dari Ubay bin Kaab, keterangan tentang perginya Musa ke laut kepada Khidhir , 1/168, no. 74.

Diriwatyatkan dalam bab pergi untuk mencari ilmu, 1/174, no. 78; dalam bab apa yang dianjurkan kepada seseorang alim jika dia ditanya siapa manusia paling alim, maka hendaknya dia menyerahkan ilmunya kepada Allah, 1/217, no. 122.

Diriwayatkan dalam Kitabul Ijarah, bab jika menyewa seorang pegawai untuk meluruskan tembok, 4/445, no. 2267.

Dalam Kitabusy Syuruth, bab syarat syarat kepada orang dengan ucapan, 5/326, no. 2276.

Dalam Kitab Bad’il Khalqi, bab sifat iblis dan bala tentaranya 6/326, no. 3278. Dalam Kitab Ahadisil Anbiya’, bab Hadis Khidhir dengan Musa, 6/431, no. 3400, 3401.

Dalam kitab Tafsir bab ‘Ketika Musa berkata kepada muridnya ‘ (Al-Kahfi: 60), 8/409, no. 4725. Dalam bab Ketika keduanya sampai di pertemuan antara dua laut. (Al-Kahfi: 61), 8/422, no. 4726. Dlaam bab, Dia berkata, ‘Tahukan kamu ketika kita berteduh di batu itu.’ ( Al-Kahfi: 63), 8/422, no. 4727.

Diriwayatkan dalam Kitabul Aiman wan Nudzur, bab jika menyalahi sumpah karena lupa, 11/550, no. 6672.

Dalam Kitabut Tauhid, bab Masyi’ah dan Iradah, 13/448, no. 448.

DIriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-Nya dari Ibnu Abbas dalam Kitabul Fadhail, bab di antara keutamaan Khidhir, 4/1847, no. 2380.

LIhat Syarah Shahih Muslim An-Nawawiyah, 5/518.

Penjelasan Hadis

Suatu hari Musa berpidato di hadapan Bani Israil. Musa menyampaikan nasihat yang melunakkan hati dan membuat air mata bercucuran. Begitulah para nabi manakala mereka memberi nasihat. Nasihat mereka melunakkan hati yang keras dan melecutkan jiwa yang malas. Hal itu karena hati dan jiwa mereka dipenuhi dengan rasa takut dan cinta kepada Allah. Mereka diberi kemampuan untuk menjelaskan dan dikaruniai banyak ilmu.

Banyak orang ketika mendengar orasi para orator ulung terkagum-kagum. Terlebih jika mereka adalah nabi-nabi Allah. Setelah Musa menyelesaikan khutbahnya, dia diikuti oleh seorang laki-laki yang meninggalkan tempat perkumpulan. Laki-laki ini bertanya kepada Musa, “Apakah di bumi ini terdapat orang yang lebih alim darimu?” Musa menjawab, “Tidak.”

Musa adalah salah seroang rasul yang agung. Dia termasuk ulul azmi. Musa menempati urutan ke tiga di antara para nabi dan rasul. Ibrahim berada di urutan kedua dan Muhammad di urutan pertama. Musa adalah kalimullah (Nabi yang berbincang dengan Allah). Allah memberinya Taurat yang berisi cahaya dan petunjuk. Allah mengajarkannya banyak ilmu. Akan tetapi, betapun tingginya ilmu seorang hamba, dia tetap harus bertawakal kepada Allah. Jika dia ditanya dengan pertanyaan seperti itu, semestinya dia menjawab, “Wallahu A’lam.” Seberapa pun ilmu yang dimiliki oleh seseorang tetaplah sedikit dibandingkan dengan ilmu Allah.

Allah mencela Musa yang tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya. Dia mewahyukan kepadanya, “Ada, ada yang lebih alim darimu. Aku mempunyai seorang hamba di tempat bertemunya dua laut. Dia memiliki ilmu yang tidak kamu miliki.” Manakala Musa menyimak hal itu, dia pun bertekad ingin menemui hamba shalih tersebut untuk menimba ilmu darinya.

Musa memohon kepada Allah agar menunjukkan tempat keberadaannya. Allah memberitahu bahwa dia berada di tempat bertemunya dua laut. Allah memerintahkan Musa supaya membawa serta ikan yang telah mati. Musa akan menemukan hamba shalih itu di tempat di mana Allah menghidupkan ikan itu. Musa berjalan dengan seorang pemuda temannya menuju tempat bertemunya dua laut. Dia meminta kepada si pemuda agar memberitahu jika ikan itu hidup. Keduanya sampai di sebuah batu di pantai. Musa berbaring di balik batu untuk beristirahat dari letihnya perjalanan. Di sinilah ikan itu bergerak-gerak di dalam keranjang. Dengan kodrat Allah ia hidup, melompat ke laut, membuat jalan yang terlihat jelas. Maka airnya berbentuk seperti pusaran, dan Allah menahan laju air dari ikan tersebut.

Si pemuda melihat ikan yang hidup itu, tetapi dia tidak menyampaikannya kepada Musa karena dia sedang tidur. Setelah terbangun, dia lupa menyampaikan perkara ikan tersebut kepada Musa. Pemuda itu belum teringat kecuali setelah keduanya pergi dari tempat itu. Pada hari itu dan pada malam itu keduanya terus berjalan. Pada hari berikutnya, ketika waktu makan siang telah tiba, Musa meminta pemuda itu untuk menghidangkan makan siang mereka berdua. Makanan mengingatkan pemuda itu kepada ikan, maka dia pun menyampaikan perkara ikan tersebut kepada Musa. Ikan itu telah melompat pada saat keduanya beristirahat di batu kemarin. Perjalanan keduanya cukup mudah. Keduanya melewati tempat yang ditentukan, hingga kelelahan.

Musa dan temannya berjalan berbalik menyusuri jejak semula yang telah mereka lalui, demi menuju ke batu tempat mereka beristirahat. Laki-laki yang dicari oleh Musa berada di sana di tempat di mana ikan itu lepas.

Sampailah keduanya di batu itu. Keduanya mendapati seorang hamba shalih sedang berbaring di atas tanah yang hijau tertutup oleh kain, ujungnya di bawah kakinya dan ujung lainnya di bawah kepalanya.

Musa langsung memberi salam, “Assalamu’alaikum.” Sepertinya daerah itu adalah daerah kafir. Oleh karenanya, hamba shalih tersebut merasa sangat aneh mendengar salam di daerah itu. Dia menjawab, “Dari mana salam di bumiku?” Kemudian hamba shalih itu bertanya siapa Musa. Musa memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan maksud kedatangannya. Dia datang untuk menyertainya dan belajar ilmu yang berguna darinya.

Hamba shalih itu berkata mengingkari perjalanan Musa kepada dirinya, “Apa kamu tidak merasa cukup dengan apa yang ada dalam Taurat dan kamu diberi wahyu?”

Kemudian hamba shalih itu menyampaikan bahwa ilmu mereka berdua berbeda, walaupun sumber keduanya adalah satu. Hanya saja, masing-masing mempunyai ilmu yang berbeda yang Allah khususkan untuknya. “Wahai Musa, sesungguhnya aku memiliki ilmu yang Allah ajarkan kepadaku yang tidak kamu ketahui. Kamu juga mempunyai ilmu yang Allah ajarkan kepadamu yang tidak Allah ajarkan kepadaku.”

Musa meminta agar diizinkan untuk menyertainya dan mengikutinya. Dia menjawab, “Kamu tidak akan bisa bersabar bersamaku.” Musa pun berjanji akan sabar dengan izin dan kehendak Allah. Hamba shalih itu mensyaratkan atas Musa agar tidak bertanya tentang sesuatu sampai dia sendiri yang menjelaskan dan menerangkannya.

Musa dan Khidhir berjalan di pantai. Keduanya hendak menyeberang ke pantai yang lain, dan mendapatkan perahu kecil yang akan menyeberangkan para penumpang di antara kedua pantai. Orang-orang mengenal hamba shalih itu, maka mereka menyeberangkannya sekaligus Musa ke pantai seberang secara gratis.

Musa dan Khidhir melihat seekor burung yang hinggap di pinggir perahu. Burung itu mematok air dari laut sekali, maka hamba shalih berkata kepada Musa, “Demi Allahlah ilmuku dan ilmumu hanyalah seperti yang dipatokkan burung itu dengan paruhnya dari air laut.”

Ketika keduanya berada di atas perahu, Musa dikejutkan oleh Khidhir yang mencopot sebuah papan kayu dari perahu itu dan menancapkan patok padanya. Musa lupa akan janjinya, dengan cepat dia mengingkari. Pengrusakan di bumi adalah kejahatan, yang lebih jahat jika dilakukan kepada orang yang memiliki jasa kepadanya, “Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat seuatu kesalahan besar.” (Al-Kahfi: 71). Di sini hamba shalih itu mengingatkan Musa akan janjinya, “Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku.’” (Al-Kahfi: 72). Pertanyaan Musa yang pertama ini dikarenakan dia lupa sebagaimana hal itu dijelaskan oleh Rasulullah.

Musa dan Khidhir terus berjalan. Musa dikejutkan oleh Khidhir yang menangkap anak kecil yang sehat dan lincah. Khidhir menidurkannya dan menyembelihnya, memenggal kepalanya. Di sini Musa tidak sanggup untuk bersabar terhadap apa yang dilihatnya. Dengan tangkas dia mengingkari, sementara dia menyadari janji yang diputuskannya. “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang munkar.” (Al-Kahfi: 74).

Pengingkaran Musa dijawab oleh hamba shalih itu dengan pengingkaran, “Bukankah sudah aku katakan bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat bersabar bersamaku.” (Al-Kahfi: 75).

Di sini Musa berhadapan dengan kenyataan yang sebenarnya, bahwa dia tidak mampu berjalan menyertai laki-laki ini lebih lama lagi. Musa tidak kuasa melihat perbuatan seperti ini dan diam. Hal ini kembali kepada dua perkara. Pertama, tabiat Musa. Musa dengan jiwa kepemimpinan yang dimilikinya sudah terbiasa menimbang segala sesuatu yang tidak diridhainya.

Dan kedua, dalam syariat Musa, pembunuhan seorang anak adalah sesuatu kejahatan. Bagaimana mungkin Musa tidak mengingkarinya, siapa pun pelakunya.

Dalam hal ini Musa mengakui kepada hamba shalih tersebut. Musa memohon kesempatan yang ketiga dan yang terakhir. Jika sesudahnya Musa bertanya, maka dia berhak untuk meninggalkannya.

Keduanya lantas berjalan, hingga tibalah di sebuah desa yang penduduknya pelit. Musa dan Khidhir meminta kepada mereka hak tamu. Mereka berdua hanya mendapatkan penolakan dari mereka. Walaupun demikian, Khidhir memperbaiki tembok di desa itu yang miring dan hampir roboh. Ini perkara yang aneh. Mereka menolak menerima keduanya sebagai tamu, tapi hamba shalih ini memperbaiki tembok mereka dengan gratis.

Di sini Musa memilih berpisah. Hal ini ditunjukkan oleh pertanyaan Musa kepada hamba shalih tentang alasan dia memperbaiki tembok secara gratis, padahal tembok itu dimiliki oleh kaum yang menolak mereka.

Seandainya Musa bersabar menyertai hamba shalih ini, niscaya kita bisa mengetahui banyak keajaiban dan keunikan yang terjadi padanya. Akan tetapi Musa memilih berpisah setelah hamba shalih ini menerangkan tafsir dari perbuatannya dan rahasia yang terkandung dari perilaku yang dilakukannya. Dan perkara ini tercantum dalam surat Al-Kahfi.

Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis

  1. Dialog dan berbincang dalam urusan ilmu. Ibnu Abbas berbeda pendapat dengan Hur bin Qais tentang nama laki-laki yang dituju oleh Musa. Apakah dia Khidhir atau bukan, dan keduanya mencari ilmu kepada orang yang memiliki ilmu. Maka Ubay bin Kaab meriwayatkan untuk keduanya dari Rasulullah tentang hadis tersebut yang menunjukkan kebenaran pendapat Ibnu Abbas.
  2. Seorang alim harus menyebarkan ilmunya di antara umat manusia. Terlebih jika ilmu itu merupakan kata putus dalam urusan yang diperselisihkan oleh manusia. Ubay bin Kaab meriwayatkan hadis kepada Ibnu Abbas dan Hur bin Qais di mana hadis itu menjadi hakim dalam urusan yang mereka perselisihkan. Dan Ibnu Abbas meriwayatkan hadis ini kepada teman-temannya sebagai bantahan kepada Nauf Al-Bakali yang mengklaim bahwa sahib Khidhir bukanlah Musa Bani Israil.
  3. Para ulama perwaris para nabi harus mengambil petunjuk para nabi dengan mengingatkan manusia kepada Tuhan mereka, membacakan ayat-ayat Allah kepada mereka demi mensucikan jiwa mereka, melunakkan hati mereka hingga menjadi dekat kepada Tuhan mereka, seperti yang dilakukan oleh Musa dalam nasihatnya.
  4. Keutamaan bepergian mencari ilmu. Musa pergi mencari orang yang lebih alim darinya. Keutamaan dan kedudukannya tidak menghalanginya untuk mengikuti orang yang diharapkan bisa menularkan ilmu kepadanya.
  5. Anjuran melayani ahli ilmu dan kebaikan. Yusya’ melayani Musa. Anas bin Malik melayani Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam.
  6. Boleh menyampaikan keletihan dan kelelahan berdasarkan ucapan Musa, “Sungguh, kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.” (Al-Kahfi: 62). Sama dengan hal ini adalah ketika seseorang memberitakan sakit yang dirasakannya, dengan catatan: pemberitaan itu tidak sampai pada tingkat kemarahan terhadap takdir.
  7. Khidhir hanya mengetahui perkara ghaib yang Allah sampaikan kepadanya. Oleh karena itu, dia tidak mengetahui nama Musa sebelum dia menanyakannya. Khidhir juga tidak mengetahui maksud kedatangan Musa.
  8. Kemampuan Allah menghidupkan yang mati. Dengan kodrat-Nya Dia menghidupkan ikan yang mati dan asin. Dan perjalanan ikan di laut mengandung tanda kekuasaan Allah yang lain, “Lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut.” (Al-Kahfi: 61).
  9. Berlemah lembut kepada pengikut dan pembantu. Pemuda yang menyertai Musa lupa memberitahu Musa tentang ikan yang telah dihidupkan olah Allah. Hal ini membuat keduanya melakukan perjalanan lebih panjang dari yang diperlukan, namun Musa tidak menyalahkan dan memarahinya.
  10. Tidak semua hal yang diprediksi seseorang bisa melakukannya, dia benar-benar melakukannya. Musa berkata kepada hamba shalih, “Insya Allah kamu akan mendapatiku sebagai orang yang sabar dan aku tidak menentangmu dalam suatu urusan apapun.” (Al-Kahfi: 69). Kemudian terbuktilah kebenaran dugaan hamba shalih itu, bahwa Musa tidak mampu bersabar.
  11. Hamba shalih ini melubangi perahu dan membunuh seorang anak. Dia menyampaikan bahwa apa yang dilakukannya adalah dengan perintah dan kehendak Allah. “Sebagai rahmat dari Tuhanmu, dan bukannya aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri.” (Al-Kahfi: 82). Oleh karena itu, tidak diperbolehkan bagi siapapun yang tidak memperoleh wahyu dari langit dan tidak menerima sedikit pun ilmu Allah untuk merusak, membunuh, dan membuat onar, dengan mengklaim bahwa perbuatannya itu mengandung hikmah yang tersembunyi. Hamba shalih itu bukan pengikut Musa, bukan pula pengikut Muhammad. Jika dia pengikut salah satu dari keduanya, niscaya dia tidak boleh melanggar syariat yang berlaku.
  12. Siapa yang bertekad melakukan sesuatu di masa datang, hendaklah dia mengucapkan, “Insya Allah.” Sebagai mana ucapan Musa, “Insya Allah kamu akan mendapatiku sebagai seorang yang sabar.” (Al-Kahfi: 69). Dan firman-Nya, “Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan melakukannya besok pagi. Kecuali dengan menyebut insya Allah.” (Al-Kahfi: 23 -24).
  13. Di antara adab mencari ilmu adalah, hendaknya murid bersabar dan patuh kepada muallim(guru), “Insya Allah kamu akan mendapatiku sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun.” (Al-Kahfi: 69).
  14. Minimnya ilmu manusia di hadapan Allah. Hamba shalih itu berkata kepada Musa, “Ilmuku dan ilmumu di depan ilmu Allah hanyalah seperti yang diambil oleh burung itu dari laut.”
  15. Seorang hamba kadang tidak menyadari hikmah di balik takdir Allah yang berlaku pada hamba-hamba-Nya. Kemudian, terungkaplah baginya apa yang dia kira seabgai cobaan dan ujian, ternyata adalah kebaikan dan nikmat. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada pemilik perahu, dan dua orang tua anak yang dibunuh oleh Khidhir.
  16. Bisa saja Allah menyediakan kebaikan bagi anak karena kebaikan bapak. Hamba shalih itu meluruskan dinding demi menjaga kekayaan yang ditinggalkan oleh bapak shalih kepada anak-anaknya.
  17. Bersikap sopan kepada Allah dengan menisbahkan kebaikan kepada-Nya, “Maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya.” (Al-Kahfi: 82). Dan tidak menisbatkan keburukan kepada-Nya. Hamba shalih tersebut menisbatkannya kepada dirinya sendiri, “Dan aku ingin merusaknya.” (Al-Kahfi: 79). Dan pemuda yang bersama Musa menyandarkan kealpaan kepada syetan, “Dan tidak ada yang melupakanku untuk menceritakannya kecuali setan.” (Al-Kahfi: 63).
  18. Melakukan sesuatu yang berdampak negatif paling ringan demi menghindari perkara yang lebih buruk. Hamba shalih itu merusak perahu, untuk menjaa perahu, karena jika perahu itu dibiarkan tanpa cacat niscaya ia akan dirampas oleh raja yang gemar mengambil perahu yang baik.
  19. Merusak sebagian harta demi menjaga harta secara keseluruhan. Khidhir merusak perahu demi menjaganya, sebagaimana dokter memotong tangan yang sakit karena dikhawatirkan penyakit itu akan menyebar ke seluruh tubuh pasiennya.
  20. Diperbolehkannya naik perahu, seperti yang dilakukan oleh Musa dan hamba shalih.
  21. Anjuran membawa bekal dalam bepergian. Musa berkata kepada pemuda yang menyeratainya, “Siapkan makan siang kita.” Jika keduaya tidak membawa makanan, niscaya Musa tidak akan meminta makanan. Sebagian orang di kalangan umat ini telah mengklaim bahwa membawa bekal di perjalanan, khususnya haji, termasuk menafikan tawakal. Mereka salah, karena Allah telah meminta pada jamaah haji agar berbekal untuk safar mereka. “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa. Bertaqwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.” (Al-Baqarah:197).
  22. Anjuran mencari makan jika di suatu kota terdapat tempat khusus untuk menjual makanan.
  23. Hadis ahad diterima dalam bidang akidah. Lain halnya dengan pendapat yang mengatakan hadis ahad tertolak di bidang akidah. Ibnu Abbas menerima hadis Ubay bin Kaab yang hanya seorang. Para murid Ibnu Abbas menerima hadis Ibnu Abbas yang hanya seorang, dan berita-berita para nabi termasuk akidah.
  24. Kesalahan pendapat yang menyatakan bahwa Khidhir hidup sampai pada masa kini. Ini adalah pendapat tanpa dalil. Jika Khidhir hidup, dia pasti datang kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan mengikutinya. Para ulama besar seperti Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir dan Abu Faraj Ibnul Jauzi (rujuklah Al-Manarul Munif, Ibnul Qayyim, 67. Al-Bidayah wan Nihayah, 1/334, Al-Maudu’at, Ibnul Jauzi, 1/197) telah menyatakan bahwa hadis-hadis yang memberitakan kehidupan Khidhir, tidaklah shahih. Sebagian penulis banyak menukil kisah-kisah yang menunjukkan hidupnya, Khidhir dan semua kisah itu adalah batil.
  25. Hendaklah seseorang bersikap hati-hati dalam mengingkari orang yang berilmu lagi baik, dengan menanyakan alasan mereka yang diduga menyelisihi kebenaran. Musa melihat perbuatan hamba shalih itu salah, padahal sebenarnya benar.

Bantahan Adam kepada Musa

November 11, 2008

Pengantar

Kisah ini hanya bisa diketahui melalui wahyu, karena ia berbicara tentang pertemuan yang tidak disaksikan oleh manusia. Pertemuan Adam dengan Musa. Pertemuan ini terwujud atas dasar permintaan dari Musa. Kita tidak tahu bagaimana hal ini terwujud, akan tetapi kita yakin bahwa ia terjadi karena berita Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pastilah benar.

Pertemuan seperti ini terjadi pada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam manakala beliau bertemu dengan para nabi dan rasul di malam isra’ dan beliau shalat berjamaah dengan mereka sebagai imam di masjid Al-Aqsa. Pada saat mi’raj ke langit beliau berbincang dengan sebagian dari mereka.

Tujuan Musa dengan pertemuan itu adalah untuk berbincang-bincang langsung dengan Adam dan menyalahkannya karena Adam telah mengeluarkan dirinya dan anak cucunya dari surga lantaran dosa yang dilakukannya. Akan tetapi pada saaat itu Adam mengemukakan alasan yang membuat Musa terdiam. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengakui bahwa Adam telah mengalahkan argumen Musa Alahis Salam.

Teks Hadis

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih keduanya dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Adam dan Musa berdebat di sisi Tuhan keduanya. Maka Adam mengalahkan argumen Musa. Musa berkata, ‘Kamu adalah Adam yang diciptakan oleh Allah dengan Tangan-Nya. Dia meniupkan ruh-Nya kepadamu. Dia memerintahkan malaikat sujud kepadamu, dan Dia mengizinkanmu tinggal di surga-Nya. Kemudian gara-gara kesalahanmu, kamu menjadikan manusia diturunkan ke bumi.’

Adam menjawab, ‘Kamu adalah Musa yang dipilih oleh Allah dengan risalah dan Kalam-Nya. Dia memberimu lauh(kepingan kayu atau batu; pent) yang berisi penjelasan tentang segala sesuatu. Dia telah mendekatkanmu kepada-Nya sewaktu kamu bermunajat kepada-Nya. Berapa lama kamu mendapatkan Allah telah menulis Taurat sebelum aku diciptakan?’ Musa menjawab, ’40 tahun.’

Adam bertanya, ‘Apakah di sana tertulis, ‘Dan durhakalah Adam kepada Allah dan sesatlah dia.(Thaha: 121)?’ Musa menjawab, ‘Ya.’ Adam berkata, ‘Apakah kamu menyalahkanku hanya karena aku melakukan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah atasku 40 tahun sebelum Dia menciptakanku?’” Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Adam mengungguli argumen Musa.”

Riwayat di atas adalah riwayat Muslim.

Dalam riwayat Bukhari, “Adam dan Musa saling beradu argumen. Musa berkata kepada Adam, ‘Kamu Adam yang dikeluarkan dari surga karena kesalahanmu.’ Adam menjawab, ‘Kamu Musa yang telah dipilih oleh Allah dengan risalah dan Kalam-Nya, kemudian kamu menyalahkanku hanya karena aku melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan atasku sebelum aku diciptakan.”‘ Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Maka Adam mengalahkan dalil Musa.” Ini diucapkan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam sebanyak dua kali.

Dalam riwayat Bukhari juga, “Adam dan Musa saling berdebat. Musa berkata, ‘Ya Adam, kamu sebagai bapak kami telah mengecewakan kami. Kamu membuat kami dikeluarkan dari surga.’ Adam menjawab, ‘Ya Musa, Allah telah mengangkatmu dengan Kalam-Nya dan Dia menuliskan untukmu dengan Tangan-Nya, apakah kamu menyalahkanku hanya karena perkara yang aku lakukan yang telah ditakdirkan oleh Allah atasku empat puluh tahun sebelum Dia menciptanku?’ Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Maka Adam mengungguli Musa.” Tiga kali.

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah dalam Kitab Ahadisil Anbiya’, bab Wafat Musa, 6/440, no. 3407; dalam Kitab Tafsir, bab ‘Dan Aku memilihmu untuk diri-Ku’ (Thaha:41), 8/434, no. 4736; dalam Kitabul Qadar, bab dialog Adam dengan Musa, 11/505, no. 6614; di Kitabut Tauhid, bab keterangan tentang firman Allah, “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (An-Nisaa: 164).

Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabul Qadar bab debat antara Adam dan Musa, 4/2042, no. 2652.

Penjelasan Hadis

Kehidupan dunia adalah kelelahan dan kepayahan. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (Al-Balad: 4). Kelelahan ini telihat dalam segala urusan. Siapa yang dimakan oleh seseorang tidak diperoleh kecuali dengan kelelahan. Seteguk minum juga demikian. Bahkan pakaian dan tempat tinggal. Lebih dari semua itu, penyakit-penyakit yang menimpa manusia, musuh-musuh dan kawan-kawannya mendatangkan problem baginya. Gangguan pun bisa datang dari anak-anak darn kerabatnya.

Musa telah merasakan apa yang dirasakannya dari Fir’aun dan bala tentaranya. Dia kabur dari Mesir ke Madyan setelah membunuh laki-laki Qibti. Di Madyan, Musa menggembala kambing selama sepuluh tahun atau delapan tahun. Dan setelah Allah mengangkatnya menjadi Rasul, Musa menghadapi Fir’aun. Musa menghadapi kebengalan dan kenakalan Bani Israel. Mungkin pada suatu waktu terbetik di pikiran Musa bahwa penyebab kelelahan ini adalah Adam, yang telah mengeluarkan dirinya dan anak cucunya dari surga. Pada masa itu Allah telah meminta Adam agar tinggal di surga setelah menciptakannya. Allah mengizinkan buah-buahnya dan sungai-sungainya kecuali satu pohon. Allah menjamin kepada Adam tidak akan lapar dan telanjang, dia juga tidak akan haus dan tidak terkena sengatan matahari.

Manakala Adam durhaka kepada Tuhannya dengan memakan pohon terlarang, maka Allah menurunkannya dari rumah kekekalan ke rumah kelelahan, dan manusia tidak mungkin hidup kecuali dengan perjuangan yang berat.

Oleh karena itu, ketika Musa bertemu dengan bapaknya, Adam dia mencelanya atas perbuatannya yang membuat dirinya dan anak cucunya keluar dari surga. Dalam perbincangan tersebut Musa mengingatkan Adam akan kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepadanya, di mana Allah menciptakannya dengan Tangan-Nya, sementara makhluk yang lain diciptkan dengan kata “Kun.” Allah meniupkan ruh-Nya padanya, menyuruh para malaikat bersujud kepadanya, mengizinkannya tinggal di surga; dan barang siapa diberi kemuliaan itu oleh Allah, maka tidak sepantasnya ia tidak mendurhakai-Nya sehingga tidak menurunkan dirinya dan anak cucunya dari surga.

Adam merespon celaan Musa dengan celaan juga. Adam membantah ucapan Musa. Dia mengingkari Musa, bagaimana sikap menyalahkan ini bisa keluar dari orang seperti Musa, Adam menyebutkan keutamaan Musa yang diberikan Allah kepadanya. Adam berkata kepada Musa, “Kamu Musa yang telah diangkat oleh Allah dengan risalah dan Kalam-Nya. Dia memberi lauh yang berisi penjelasan tentang segala sesuatu. Dia mendekatkanmu kepada-Nya ketika kamu bermunajat. Berapa lama kamu mendapati Allah menulis Taurat sebelum aku diciptakan?” Musa menjawab, “Empat puluh tahun.”

Adam bertanya, “Apakah kamu mendapati, ‘Dan Adam durhaka kepada Tuhannya, maka dia sesat.’ (Thaha: 121). “Musa menjawab, ‘Ya.’

Adam berkata, “Apakah kamu menyalahkanku karena satu perbautan yang aku lakukan yang telah ditakdirkan oleh Allah atasku empat puluh tahun sebelum aku diciptakan?”

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah menyatakan bahwa Adam mengungguli ucapan Musa. Mungkin ada yang bertanya, “Bagaimana bisa itu?” Bagaimana Adam unggul dalam argumennya?”

Jawabannya adalah bahwa Musa menyalahkan Adam karena Adam telah mengeluarkan dirinya dan anak cucunya dari surga. Maka Adam menjawabnya, “Saya tidak mengeluarkan kalian dari surga, akan tetapi Allahlah yang menjadikan keluarnya diriku karena aku memakan pohon.” Maka pengeluarkan Adam bukan sesuatu yang lazim jika ia tidak diinginkah oleh Allah Tabaraka Wa Taala, karena mungkin saja Allah mengampuninya tanpa mengeluarkannya dari surga dan mungkin juga Allah menghukum Adam dengan hukuman lain, bukan dengan mengeluarkannya dari surga, akan tetapi hikmah-Nya menuntut mengeluarkan Adam dari surga karena kebaikan yang banyak dan besar yagn diketahui oleh-Nya. Oleh karena itu, Adam mencela Musa atas celaannya kepadanya karena satu perkara yang telah dikehendaki dan ditakdirkan oleh Allah dan hal itu itu sendiri bukan sesuatu yang lazim dari perbautan Adam.

Hadis ini membantah para pendusta takdir, karena hadis ini menetapkan takdir terdahulu dan dalil-dalil yang menetapkan takdir adalah dalil-dalil yang ketetapannya pasti dan dalalahnya juga pasti, maka tidak ada peluang untuk mendustakan dan mengingkari takdir. Barang siapa mendustakannya maka dia tidak mengerti permasalahan yang sebenarnya.

Hadis ini dicatut oleh kelompok jabbaraiyah di mana –kata mereka- hamba adalah orang yang terpaksa dalam perbautan-nya. Padahal, hadis ini tidak menunjukkan itu. Adam tidak membantah Musa dengan cara ini. Dan masalahnya adalah seperti yang telah aku jelaskan dan aku tetapkan. Wallahu A’lam.

Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis

  1. Dialog antara orang-orang yang shalih dalam masalah yang musykil, seperti Ada yang berdialog dengan Musa. Dan diwajibkan atas peserta dialog untuk tunduk kepada kebenaran jika ia telah jelas setelah sebelumnya samar, seperti Musa yang tunduk pada hujjah Adam.
  2. Kewajiban beriman kepada ghaib yang benar. Allah telah memuji orang-orang mukmin bahwa mereka beriman kepada yang ghaib. Di antara perkara ghaib yang diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam adalah percakapan yang terjadi antara Adam dan Musa. Adapun perkara ghaib yang diklaim oleh sebagian orang tanpa berpijak kepada dalil yan benar, maka hal itu termasuk berkata atas nama Allah tanpa ilmu.
  3. Pelaku dialog hendaknya mengenal kelebihan lawan dialog. Adam dan Musa masing-masing menyebutkan keunggulan lawannya dan kelebihan yang diberikan oleh Allah kepadanya.
  4. Hadis ini menetapkan takdir yang mendahului. Banyak sekali dalil-dalil dalam hal ini. Hadis ini membantah qadariyah yang menafikan takdir yang mendahului, termasuk kelompok mu’tazilah.
  5. Keterangan tentang keutamaan khusus yang dimiliki oleh Adam. Allah menciptakannya dengan tangan-Nya, memerintahkan para malaikat untuk sujud kepadanya, mengizinkannya tinggal di surga-Nya. Sementara keistimewaan Musa bahwa Allah mengangkatnya dengan risalah dan kalam-Nya. Dia memberinya lauh yang mengandung penjelasan tentang segala sesuatu, dan Dia mendekatkannya ketika dia bermunajat kepada-Nya. Keistimewaan-keistimewaan ini dimiliki oleh keduanya. Sebagian telah disebutkan secara nyata di dalam Al-Qur’an dan sebagian lain ditunjukkan oleh hadist-hadis lain seperti hadis ini.
  6. Penetapan sifat Tangan bagi Allah. Sifat ini tidak boleh dinafikan dan tidak boleh didustakan, sebagaimana tidak boleh menyamakan Tangan Allah dengan tangan para makhluk, berpijak pada firman Allah, “Tidak sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura:11).
  7. Keterangan tentang sebagian ilmu di dalam Taurat yang diturunkan oleh Allah kepada Musa. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyatakan bahwa dalam Taurat terdapat, “Dan Adam durhaka kepada Tuhannya, maka dia pun sesat.” Ayat ini terdapat di Al-Qur’an sebagaimana di dalam Taurat yang Allah turunkan. Tetapi dalam Taurat sekarang, hal itu sudah tidak ada.
  8. Hadis ini mengandung hakekat ilmiah yang ghaib, bahwa Allah menulis Taurat empat puluh tahun sebelum diciptakan.
  9. Hadis ini menetapkan bahwa Allah menulis Taurat dengan Tangan-Nya. Ini termasuk keistimewan taurat sebagai keutamaan Musa.

Nabiyullah Sulaiman Diberi Setengah Bayi

November 11, 2008

Pengantar

Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam menyampaikan kepada kita bahwa Nabiyullah Sulaiman bersumpah untuk menggauli sembilan puluh sembilan istrinya. Masing-masing istri melahirkan seorang penunggang kuda untuk berjihad fi sabilillah. Tetapi tidak ada yang melahirkan kecuali satu istri. Dan itupun hanya setengah manusia, karena dia tidak berucap insya Allah.

Teks Hadis

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih masing-masing dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam beliau bersabda, “Sulaiman bin Dawud berkata, ‘Demi Allah, aku akan berkeliling malam ini kepada tujuh puluh istri, masing-masing istri melahirkan seorang penunggang kuda yang berjihad fi sabilillah.’ Temannya berkata kepadanya, ‘Insya Allah.’ Tetapi Sulaiman tidak mengucapkannya, maka tidak seorangpun yang melahirkan kecuali seorang saja melahirkan bayi yang jatuh salah satu sisinya.”

Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Jika Sulaiman mengucapkan, niscaya mereka berjihad fi sabilillah.” Syuaib dan Ibnu Abiz Zinad berkata, “Sembilan puluh.” Dan ini lebih shahih. Lafadznya adalah lafadz Bukhari. Hadis ini disebutkan oleh Bukhari dalam Kitabul Jihad dengan lafadz, “Demi Allah, malam ini aku akan berkeliling kepada seratus istri atau sembilan puluh sembilan istri.”

Dalam Kitabun Nikah dengan lafadz, “Sulaiman bin Dawud berkata, ‘Demi Allah, malam ini aku akan berkeliling kepada seratus wanita, setiap wanita melahirkan seorang anak laki-laki yang berperang di jalan Allah.’ Malaikat berkata kepadanya, ‘Katakanlah, ‘Insya Allah’. Tetapi Sulaiman tidak mengatakannya. Dia lupa. Dia berkeliling, tapi tidak ada istri yang melahirkan kecuali seorang istri yang melahirkan setengah manusia.” Nabi bersabda, “Seandainya Sulaiman berkata, ‘Insya Allah’ niscaya dia tidak mengingkari sumpahnya dan keinginannya lebih mungkin untuk tercapai.”

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Ahadisil Anbiya’, bab firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan Kami berikan Sulaiman kepada Dawud.” (Shad: 30). (6/458 no. 3424).

Dalam Kitabul Jihad, bab mencari anak untuk jihad, 6/34 no. 2819, dalam Kitabun Nikah, bab ucapan seorang suami, ‘Aku akan berkeliling kepada istri-istriku.’ (9/239 no. 5242).

Dalam Kitabul Aiman wan Nudzur, bab bagaimana sumpah Nabi, 11/524, no. 6639.

Dalam Kitab Kaffaratul Aiman, bab pengecualian dalam sumpah, 11/602.

Dalam Kitabut Tauhid, bab keinginan dan kehendak, 13/446, no. 7469.

Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dalam Kitabul Aiman bab pengecualian dalam sumpah, 3/1275, no. 1654. Hadis ini dalam Syarah Muslim An-Nawawi, 11/282.

Penjelasan Hadis

Sulaiman adalah salah seorang Nabiyullah yang shalih dan raja yang mujahid. Allah memberinya kerajaan yang besar. Allah menundukkan manusia, jin, burung, dan angin untuknya. Barang siapa membaca paparan Al-Qur’an tentang hidupnya, maka dia mengetahui bahwa Sulaiman gemar berjihad fi sabilillah, memperhatikan bala tentaranya, cermat meniliti mereka dan perlengkapan mereka. Dan jika perhatian seseorang tertuju pada suatu perkara, maka dia akan menghabiskan umurnya dalam rangka meraih sesuatu itu, mengembangkan, dan menegakkannya di antara manusia.

Sulaiman benar-benar menggemari jihad, memperhatikan dan menyiapkan pasukannya. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah, “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).” (An-Naml: 17). Perhatian Sulaiman terhadap kuda menyibukkannya dari perbuatan-perbuatan baik yang bisa jadi lebih afdhal (utama) daripadanya, “(Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku …” (Shad: 31-32). Lihatlah bagaimana Sulaiman hendak meminta tanggung jawab salah satu bala tentaranya manakala dia melihat burung hud-hud tidak hadir, “Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: ‘Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.” (An-Naml; 20-21).

Kegemaran Sulaiman terhadap jihad, menyiapkan peperangan dan menumbuhkan generasi yang gemar berperang dipaparkan oleh Rasulullah kepada kita, bahwa dia bersumpah untuk menggauli dalam satu malamnya sembilan puluh sembilan istrinya dengan harapan satu orang melahirkan seorang prajurit yang berperang di jalan Allah. Dalam riwayat yang lain, tujuh puluh istri. Dalam riwayat lain, sembilan puluh, dan dalam riwayat empat ratus.

Akan tetapi harapanya kandas. Dia tidak bisa mewujudkan sumpahnya. Dia hanya diberi setengah bayi. Rasulullah menjelaskan sebabnya, dia lupa mengucapkan ‘insya Allah’ walaupun malaikat telah mengingatkan hal itu kepadanya. Dan sepertinya Sulaiman sedang sibuk dengan urusan-urusannya sehingga membuatnya lalai mengucapkannya itu agar takdir Allah terlaksana padanya. Seandainya Sulaiman mengucapkan kalimat itu, niscaya sumpahnya terpenuhi dan keinginannya terwujud, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Setengah manusia yang dilahirkan oelh salah seorang istri Sulaiman bisa jadi yang dimaksud dengan firman-Nya, “Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat.” (Shaad: 34).

Mungkin ada yang bertanya bagaimana Sulaiman bersumpah terhadap sesuatau yang akan terjadi pada masa mendatang? Padahal terjadinya hal semacam ini termasuk perkara di mana seorang hamba Allah yang shalih tidak semestinya memastikan. Jawabannya adalah bahwa ada sebagian hamba Allah yang shalih, jika mereka bersumpah, maka Allah mewujudkan sumpahnya dan memenuhi permintaanya. Sebagaimana dalam hadits shahih, “Sesungguhnya di antara hamba Allah terdapat orang-orang yang jika bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah memenuhinya.”

Tak diragukan Sulaiman mempunyai kedudukan di sisi Allah. “Dan Kami karuniakan kepada Dawud (seorang), Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (Shad: 30). “Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Dawud dan Sulaiman, dan keduanya mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.’” (An-Naml: 15).

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah menyatakan bahwa di antara para sahabat terdapat sahabat yang jika dia besumpah atas nama Alah , nisaya Allah akan memenuhinya. Di antara mereka adalah Barra’ bin Malik. Dan tentu saja Sulaiman lebih mulia kedudukannya daripada seorang sahabat.

Mungkin ada yang bertanya, “Darimana Sulaiman memiliki wanita dalam jumlah seperti itu?” Jawabannya adalah bahwa dalam syariat Musa, seorang laki-laki dibolehkan menikah tanpa dibatasi. Taurat menyebutkan bahwa istri Sulaiman mencapai tujuh ratus orang.

Hadis ini menunjukkan bahwa Sulaiman memiliki kemampuan besar dalam urusan istri; satu malam dia berkeliling kepada wanita dalam jumlah seperti di atas.

Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis

  1. Keinginan orang shalih untuk mendapatkan anak shalih yang berjihad fi sabilillah, sebagaimana Sulaiman menginginkan anak dalam jumlah itu.
  2. Dalam syariat Taurat berpoligami adalah dianjurkan.
  3. Kemampuan Sulaiman menggauli istri-istri dalam jumlah sebanyak itu dalam satu malam, walalupun dia sibuk dengan urusan Negara dan umat.
  4. Hendaknya seorang yang hendak menggauli istrinya agar bermaksud mencari keturunan yang shalih sebagaimana yang dilakukan oleh Sulaiman
  5. Dibolehkan bagi seseorang untuk memberitakan sesuatu yang menurut dugaannya terjadi di masa yang akan datang, sebagaimana Sualiman memberitahu apa yang hendak dilakukannya yaitu menggauli istrinya dan anak-anak yang akan dirizkikan.
  6. Boleh bersumpah terhadap urusan di masa datang seperti yang dilakukan oleh Sulaiman.
  7. Sumpah boleh diniatkan tanpa dilafadzkan. Sulaiman tidak mengucapkan sumpahnya dan ia ditunjukan oleh lamul qasam (huruf lam yang menunjukkan makna sumpah).
  8. Seorang muslim harus menggantungkan sesuatu yang hendak dilakukannya dia tas kehendak Allah, dan dia berkata, “Aku akan melakukan ini insya Allah.”
  9. Di antara adab para Nabi adalah menggunakan bahwa kinayah (samar) dalam urusan di mana keterusterangan dianggap kurang baik. Sulaiman tidak berkata, “Akau akan menggauli atau menyetubuhi.” Tetapi dia berkata aku akan berkeliling.
  10. Jika seorang bersumpah untuk melakukan sesautu di masa mendatang, lalu dia berkata, ‘insya Allah,’ maka dia tidak ingkar dalam sumpahnya (jika tidak melakukannya). Jika tidak mengucapkannya maka dia ingkar.

Wafatnya Nabiyullah Dawud Alaihis Salam

November 11, 2008

Pengantar

Hadis ini berkisah tengan wafatnya hamba shalih dari Nabi terpilih, Dawud Alaihis Salam, juga seorang raja agung dan pemimpin yang ditaati. Malaikat maut masuk ke rumahnya tanpa izinnya, dia menunggu Dawud yang pulang dari bepergiannya. Dia mencabut nyawanya tanpa didahului penyakit yang menimpanya, tanpa musibah yang turun kepadanya. Ini mengandung koreksi terhadap berita tentangnya dalam Taurat dan pembebasan untuknya dari klaim para penulis Taurat bahwa orang-orang dekat Dawud membawa gadis cantik pada waktu Dawud sakit lalu wanita itu tidur di pangkuannya untuk memperoleh kehangatan.

Teks Hadis

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Nabi Dawud memiliki kecemburuan yang besar. Jika dia pergi pintu-pintu rumahnya dikunci. Tidak ada seorangpun yangdatang kepada keluarganya sampai dia pulang.

Suatu hari dia keluar dan rumahnya dikunci. Maka isterinya meniliti rumah, ternyata ada seorang laki-laki berdiri di tengah rumah. Dia berkata kepada orang-orang yang ada di rumah, ‘Dari mana orang ini masuk ke dalam rumah padahal ia terkunci? Demi Allah, kamu akan ditangkap oleh Dawud.’

Dawud pulang sementara laki-laki itu tetap berdiri di tengah rumah. Dawud bertanya, ‘Siapa kamu?’ Orang itu menjawab, ‘Saya adalah orang yang tidak takut kepda raja, tidak ada sesuatu yang menolak aku.’ Dawud berkata, ‘ Demi Allah kamu adalah malaikat maut. Selamat datang kepada perintah Allah.’ Maka Dawud berlari kecil di tempat nyawanya dicabut. Ketika urusan Dawud selesai, matahari pun terbit.

Sulaiman berkata kepada burung, ‘Naungilah Dawud.’ Maka ia menaunginya sehingga bumi menjadi gelap bagi keduanya. Sulaiman berkata kepadanya, ‘Tariklah sayapmu satu persatu.’” Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw menunjukkan bagaimana burung itu melakukannya. Dan Rasul Allah (Dawud) diambil, sementara pada hari itu yang lebih dominan memberi naungan adalah elang yang bersayap lebar.”

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (2/419), disebutkan oleh Haitsami dalam Majma’uz Zawaid(8/207), kemudian dia berkata tentang takhrij-nya, “Diriwayatkan oleh Ahmad, dalam sanad-nya terhadap Al-Muthallib bin Abdullah bin Hanthab. Dia dinyatakan tsiqah oleh Abu Zur’ah dan lainnya, dan sisa rawinya adalah rawi hadis shahih.”

Penjelasan Hadis

Hadis ini berkisah tentang kisah wafatnya Nabiyullah Dawud. Rasulullah saw. telah memberitakan bahwa Dawud wafat dalam keadaan sangat sehat wal ‘afiat tidak sebagaimana yang diklaim oleh para peletak Taurat. Dalam Safar Muluk disebutkan bahwa di akhir usianya Dawud menjadi tua renta. Ia hanya bisa terbaring dan kehilangan kekuatannya. Orang-orang di sekelilingnya menyelimutinya dengan kain, tetapi dia tetap kedinginan. Lalu mereka menghadirkan seorang wanita cantik, Dawud tidur dalam pelukannya supaya Dawud merasa hangat. Dan para penulis Taurat menyebutkan wasiat-wasiat Dawud kepada anaknya, Sulaiman, sementara dia dalam keadaan hampir mati.

Hadis ini mengoreksi berita wafatnya Dawud yang mereka sebutkan di dalam kitab mereka. Sebelum wafat, Dawud tidak sakit. Dia tidak memerlukan seorang wanita cantik untuk mendapatkan kehangatan. Saya tidak mengerti mengapa orang-orang yang menyelewengkan Taurat begitu bersemangat mengotori dan menodai sejarah hidup para nabi. Sualaiman, menurut mereka, adalah tukang sihir penyembah berhala. Luth, meneurut mereka, berbuat mesum dengan kedua anak perempuannya. Dan Dawud menurut mereka hanya memperoleh kehangatan dari seorang wanita muda cantik yang tidur dalam pelukannya sewaktu dia sedang sakit, seolah-olahtidak ada cara melawan kedinginan bagi raja agung ini kecualai cara itu.

Dawud tidak tua, tidak kehilangan kekuatannya dan tidak sakit. Pada hari itu Dawud meninggalkan rumahnya sebagaimana yang dia lakukan setiap hari. Dawud pemilik kecemburuan yang tinggi. Oleh karena itu, pintu-pintu rumahnya selsalu dikunci setelah dia pergi. Maka tidak seorang pun yang masuk rumahnya setelah kepergiannya. Ketika Dawud pergi pda hari itu, isterinya melihat dan memeriksa keadaan rumahnya. Istri Dawud melihat seorang laki-laki yang berdiri tegak di tengah rumah. Istri Dawud terheran-heran, bagaimana orang ini masuk, padahal rumahnya terkunci dengan rapat. Istri Dawud bertanya kepada penghuni rumah dan pelayannya bagaimana orang ini bisa mausk ke rumah. Dia takut terhadap kemarahan Dawud jika dia memergoki ada seorang laki-laki di rumahnya.

Dawud pulang tidak lama setelah itu, sementara laki-laki itu tetap ada dalam keadaaanya semula tanpa rasa khawatir dan rasa takut. Biasanya orang –orang akan takut jika bertemu dengan raja, lebih-lebih untuk memasuki rumah mereka, siapa yang berani?

Dawud bertanya kepada laki-laki itu tentang dirinya. Dia menyebutkan jati dirinya yang langsung dikenali oleh Dawud. Dia berkata, “Aku adalah orang yang tidak takut pada raja, tidak ada yang menghalangiku.” Maka Dawud mengenal cirinya. Dawud berkata, “Jadi kamu –demi Allah- adalah Malaiakat maut. Selamat datang kepautusan Allah.” Lalu Dawud diambil nyawa-nya, dia pun wafat.

Nabi menyampaikan bahwa ketika Dawud telah dimandikan, dikafani dan disiapkan, matahari pun menyinarinya. Sulaiman memerintahkan burung agar memayungi dengan sayapnya, maka jenazah Dawud terpayungi, begitu pula para pengantarnya, sehingga matahari tidak berhasil menyusupkan sinarnya kepada para pengantar. Akibatnya, bumi menjadi gelap. Pada saat itu Sulaiman memerintahkan agar burung menerik sayapnya. Dan Rasulullah menunjukkan dengan kedua tangannya bagaimana burung-burung itu menarik sayap-sayap-nya. Beliau juga memberitakan bagaimana burung elang dengan sayap yang lebar, yang diberi nama oleh Rasulullah dengan madhrahiyyah, mengungguli burung-burung lain saat memayungi Dawud pada hari itu.


Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis

  1. Hadis ini mengoreksi berita-berita yang disebutkan oleh para ahli sejarah Bani Israil tentang wafanya Dawud. Hadis ini membebaskan Dawud dari tuduhan para penyeleweng Taurat. Di antaranya adalah bahwa Dawud sakit sebelum meninggal dan bahwa orang-orang di sekelilingnya membawakan seorang gadis muda untuk tidur di pelukannya untuk memberinya kehangatan.
  2. Malaikat mampu menjelma dalam bentuk manusia. Malaikat maut menjelma dalam bentuk seorang laki-laki yang bisa dilihat oleh Dawud dan istrinya.
  3. Mengenal akhlak mulia yang dimiliki Dawud, yaitu kecemburuan kepada kelaurga.
  4. Keutamaan Sulaiman dalam menundukkan burung dan memerintahkannya agar memayungi Dawud dan pra pengangarnya di hari yang panas itu sampai di dikubur.

Nabiyullah Ayyub, Imam Orang-Orang Sabar

November 11, 2008

yyub adalah hamba shalih dan teladan kesabaran. Kisahnya diceritakan untuk menghibur orang-orang yang ditimpa musibah, baik pada diri mereka, keluarga, dan harta. Dia dulu sehat lalu sakit, dulu kaya lalu miskin, pemilik keluarga dan anak, lalu Allah mengambil keluarga dan anaknya. Dia menjalani semua itu dengan kesabaran yang baik, tidak mengaduh, dan tidak meratap. Ujiannya berlangsung lama. Semangatnya tidak berkurang karena ujian yang panjang itu. Kemudahan datang dari Allah ketika Ayyub memanggil-Nya dan berdoa kepada-Nya. Allah mengembalikan kesehatannya, mengembalikan harta dan anaknya dua kali lipat dari yang sebelumnya. Kisahnya menjadi cerita yang menghiasi bibir orang-orang yang sesudahnya. Kisah seorang imam orang-orang yang sabar, Ayyub Nabiyullah.

Teks Hadis

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Nabiyullah Ayyub ditimpa musibah selama delapan belas tahun. Orang dekat dan orang jauh menolaknya, kecuali dua orang laki-laki saudaranya yang selalu menjenguknya setiap pagi dan petang hari. Suatu hari salah seorang dari keduanya berkata kepada temannya, ‘Ketahuilah, demi Allah, Ayyub telah melakukan sebuah dosa yang tidak dilakukan oleh seorang manusia di dunia ini.’ Temannya menanggapi, ‘Apa itu?’ Dia menjawab, ‘Sudah delapan belas tahun Allah tidak merahmatinya dan tidak mengangkat ujian yang menimpanya.’

Manakala keduanya pergi kepada Ayyub, salah seorang dari keduanya tidak tahan dan tidak mengatakan hal itu kepada Ayyub. Maka Ayyub berkata, ‘Aku tidak mengerti apa yang kalian berdua katakana. Hanya saja, Allah mengetahui bahwa aku pernah melewati dua orang laki-laki yang bersengketa dan keduanya menyebut nama Allah, lalu aku pulang ke rumah dan bersedekah untuk keduanya karena aku khawatir nama Allah disebut tidak dalam kebenaran.’

Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, ‘Ayyub pergi buang hajat. Jika dia buang hajat, istrinya menuntunnya sampai di tempat buang hajat. Suatu hari Ayyub terlambat dari istrinya dan Allah mewahyukan kepada Ayyub, ‘Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.’ (Shad: 42). Istrinya menunggunya cukup lama. Dia melihat dan memperhatikannya sedang berjalan ke arahnya, sementara Allah telah menghilangkan penyakitnya dan dia lebih tampan dari sebelumnya. Ketika istrinya melihatnya dia berkata, ‘Semoga Allah memberimu berkah, apakah kamu melihat nabiyullah, orang yang sedang diuji? Demi Allah, kamu sangat mirip dengannya saat dia dalam keadaan sehat.’ Ayyub berkata, ‘Sesungguhnya akulah Ayyub.’

Ayyub memiliki dua tempat untuk mengeringkan hasil bumi, yang pertama untuk gandum dan yang kedua untuk jemawut, lalu Allah mengirim dua gumpalan awan. Ketika awan yang pertama tiba di atas tempat pengeringan gandum, ia memuntahkan emas sampai melimpah, dan awan yang lainnya menumpahkan di tempat pengeringan jewawut sampai melimpah pula.”

Takhrij Hadis

Syaikh Nashiruddin Al-Albani berkata tentang takhrij hadits ini dalam Silsilah Al-Ahadis Ash-Shahihah (1/24), “Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya (1 176-177), Abu Nuaim dalam Al-Hilyah (3/374-375) dari dua jalan dari Said bin Abu Maryam. Nafi’ bin Yazid menyampaikan kepada kami, Aqil memberitakan kepada kami dari Ibnu Syihab dari Anas bin Malik secara marfu’.” Dan dia berkata, “Gharib dari hadis Az-Zuhri, tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Aqil. Rawi-rawinya disepakati keadilan mereka. Naïf meriwayatkan secara sendiri.”

Aku berkata, “Dia adalah rawi tsiqah(terpecaya) sebagaimana yang dikatakannya. Muslim meriwayatkan hadisnya, rawi-rawi lainnya adalah rawi-rawi Syaikhain. Jadi, hadis ini shahih. Ia dishahihkan oleh Adam-Dhiya’ Al-Maqdisi. Dia meriwayatkannay dalam Al-Mukhtarah (2/220-221) dari jalan ini. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya (2091) dari Ibnu Wuhaib. Nafi’ bin Yazid memberitakan kepada kami.”

Penjelasan Hadis

Ayyub adalah salah seorang Nabi Allah yang mulia. Allah mewahyukan kepada Ayyub, “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (An-Nisa: 163).

Ayyub termasuk keturunan Ibrahim. Firman Allah, “Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-An’am: 84).

Allah telah menceritakan kisahnya di dua tempat dalam kitab-Nya, pertama dalam surat Al-Anbiya. Firman Allah, “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang.’ Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (Al-Anbiya: 83-84).

Kedua dalam surat Shad. Firmannya, “Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya, ‘Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan.’ (Allah berfirman), ‘Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.’ Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).” (Shad: 41-44).

Dalam sunah Rasulullah terdapat keterangan tentang kisah Ayyub yang lebih jelas dan terperinci. Dari seluruh keterangan dalam Al-Qur’an dan hadis dapat diambil kesimpulan bahwa hidup Ayyub penuh dengan kenikmatan sebelum memperoleh ujian, kehidupannya makmur. Allah menganugerahkan harta, keluarga dan anak kepadanya, kemudian Allah berkehendak untuk mengujinya. Maka dia mengambil harta dan anaknya, badannya pun berpenyakit. Orang-orang yang dikumpulkan oleh nikmat di sekelilingnya mulai menjauhinya. Orang dekat dan orang jauh menghindarinya. Yang masih baik kepadanya hanyalah istrinya dan dua orang dari sahabatnya yang mulia. Kedua orang ini sering mengunjunginya dan Ayyub terhibur karenanya.

Salah seorang dari keduanya memikirkan keadaan Ayyub yang telah diuji sekian lama. Ayyub menanggung ujian itu selama delapab belas tahun dan Allah belum mengangkat apa yang menimpanya. Terbesit di pikiran orang ini bahwa cobaan Ayyub itu mungkin dikarenakan dosa besar yang pernah diperbuat oleh Ayyub. Orang ini mengatakan apa yang ada di pikirannya kepada temannya, dan temannya ini pun tidak kuasa menyimpan apa yang dikatakan oleh rekannya. Dia mengatakan hal itu kepada Ayyub. Hal ini membuat Ayyub sangat bersedih, maka dia menceritakan keadaannya secara terbuka dan menepis anggapan tersebut. Pada waktu Ayyub sehat dan bugar, dia melihat dua orang saling bertikai dan keduanya menyebut nama Allah. Ayyub pulang ke rumahnya dan bersedekah atas nama keduanya, karena dia khawatir nama Allah disebut kecuali dalam kebenaran.

Di sanalah Ayyub menghadap kepada Tuhannya denagn doa memohon dari-Nya agar ujiannya diangkat, “(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang.” (Al-Anbiya: 83). “Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Shad: 41).

Allah menjawab doanya dan mengangkat ujian yang menimpanya. Allah Maha Berkuasa atas segala hal. Jika Dia menghendaki sesuatu, pastilah terjadi. Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mampu menghalangi-Nya.

Sudah menjadi kebiasaan Ayyub jika dia pergi buang hajat, dia diantar dan dituntut oleh istrinya karena badannya yang lemah. Jika Ayyub telah tiba di tempat yang dituju, istrinya membiarkannya menunaikan hajatnya. Setelah itu dia kembali menuntun suaminya pulang ke tempat tinggalnya. Pada hari ketika Ayyub berdoa kepada Allah, dia terlambat kembali kepada istrinya yang sedang menunggunya. Allah mewahyukan kepada Ayyub agar menjejakkan kakinya yang lemah ke tanah, maka dari tempat yang dijejakkannya itu memancarlah air. Allah meminta Ayyub agar minum air itu dan mandi darinya. Air itu menghilangkan penyakit di tubuhnya, lahir dan batin. Ayyub kembali sehat dan bersemangat pada saat itu juga. Kesehatannya dan kekuatannya pulih seperti ia tidak pernah sakit.

Ayyub menemui istrinya dengan penuh semangat dan gairah seperti sebelum dia diserang penyakit. Ketika istrinya melihatnya, dia tidak mengenalinya walaupun dia melihatnya seperti suaminya yang dahulu sehat wal afiat. Dia bertanya kepadanya tentang suaminya, seorang nabi yang sakit-sakitan. Dia menyebutkan apa yang pernah dilihatnya dari suaminya pada saat suaminya masih sehat dan kuat. Dia sama sekali tidak menduga bahwa suaminya bisa sehat dan sembuh dari penyakitnya dalam waktu yang sesingkat itu, yaitu sewaktu dia terlambat untuk kembali kepadanya. Kebahagiannay begitu besar manakala dia melihat nikmat Allah kepada suaminya dalam bentuk kembalinya kesehatan dan kekuatan kepadanya.

Sebagaimana Allah mengembalikan kesehatan dan kekuatannya, Allah juga mengembalikan hartanya yang hilang sebanyak dua kali lipat, serta menganugerahkan anak-anak kepadanya dua kali lipat pula. Alalh mengirimkan dua awan yang tidak membawa hujan, tetapi membawa emas dan perak. Ayyub memiliki dua tempat penyimpanan hasil bumi. Yang pertama untuk gandum dan yang kedua untuk jemawut. Awan pertama menumpahkan emas di tempat penyimpanan gandum dan awan kedua menumpahkan perak di tempat penyimpanan jemawut.

Pada waktu sakit Ayyub pernah marah kepada istrinya. Dia bernadzar, jika dia sembuh, dia akan memukulnya seratus kali. Setelah sembuh Ayyub merasa berat memukul istrinya yang selama dia sakit begitu sabar merawatnya, tetapi dia juga merasa berat karena tidak menunaikan nadzar kepada Tuhannya. Maka Allah memberikan jalan keluar dan kemudahan. Dia memerintahkan Ayyub agar mengambil seikat batang gandum atau jemawut dan memukul istrinya dengan itu satu kali pukulan, dengan itu Ayyub telah menunaikan nadzarnya dan tetap tidak menyakiti istrinya. Allah berfirman untuk Ayyub, “Dan ambillah dengan tanganmu seikat rumput, maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah.” (Shad:44).

Imam Ahmad berpendapat bahwa dibolehkan memukul orang yang melakukan dosa yang terancam hukuman had, seperti orang yang berzina yang belum menikah dan orang yang melakukan dosa qadzaf (menuduh) dengan pukulan seperti pukulan pukulan Ayyub, jika yang bersangkutan sakit sehingga ditakutkan akan celaka setelah dia dipukul. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah memerintahkan para sahabat untuk memukul seorang laki-laki yang sakit yang telah berzina dengan seorang wanita dengan sebuah janjang kurma yang terdiri dari seratus cabang sebanyak satu kali pukulan. (Lihat Ighatsatul Lahfan, Ibnul Qayyim (2/98). Hadis yang disinggung di atas dinisbatkan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani di Silsilah Al-Ahadis As-Shahihah (6/1215) dengan no. 2968 kepada Nasai di Sunan Kubra, Ibnu Majah, Baihaqi, Ahmad dan lain-lainnya).

Ayyub adalah soerang yang gesit, dermawan dan humoris dalam kejujuran. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah memberitakan kepada kita di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Nasai dari Abu Hurairah yang berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Manakala Ayyub sedang mandi telanjang, sekelompok belalang dari emas jatuh kepadanya, maka Ayyub memunguti dan menyimpannya di bajunya. Maka Tuhan memanggilnya, ‘Wahai Ayyub, bukankah Aku telah membuatmu kaya seperti yang kamu lihat?’ Ayyub menjawab, ‘Benar, ya Rabbi, akan tetapi aku selalu memerlukan keberkahanMu’.” (Jami’ul Ushul, 8/521).

Mungkin anda membayangkan keadaan Ayyub ketika dia melompat dalam keadaan telanjang, mengumpulkan dan memunguti belalang emas, lalu meletakkan di bajunya. Maka Tuhannya memanggilnya, “Bukankah Aku telah membuatmu kaya sebagaimana kamu lihat?” (Yakni, melalui dua awan yang menuangkan emas dan perak di tempat penyimpanan hasil buminya). Ayyub menjawab, “Siapa yang tidak memerlukan keberkahan-Mu, ya Rabbi?”

Versi Taurat

Barang siapa membaca kisah Ayyub di dalam Al-Qur’an dan hadis yang shahih lalu membaca kisah ini dalam Taurat, maka dia akan meyakini bahwa salah satu sasaran pemaparan versi dalam Al-Qur’an dan penjelasan detail-detailnya di dalam hadis adalah untuk membongkar penyelewengan kisah ini menurut versi Bani Israil dan membebaskan Nabiyullah Ayyub dari tuduhan palsu dan dusta oleh orang-orang yang menyeleweng lagi zhalim.

Klaim pertama yang harus diluruskan dan dikoreksi adalah klaim para penulis kisahnya dalam Taurat bahwa Ayyub hanyalah seorang laki-laki shalih lagi lurus. Dia bukan seorang nabi. Klaim kedua yang harus diluruskan dan dikoreksi adalah apa yang dikatakan oleh Taurat bahwa Ayyub marah kepada Tuhan-nya ketika menjalani cobaan. Kemarahan Ayyub kepada Tuhannya ini dipaparkan dipaparkan lewat perbicangan panjang antara Ayyub dan ketiga orang temannya. Walau Ayyub dengan imannya dan kepercayaannya kepada Tuhannya, dia tetap berbicara panjang kepada teman-temannya untuk menampakkan penderitaannya karena cobaan dari Allah, walaupun dia tetap baik, lurus dan melakukan kebaikan.

Dialog yang terjadi adalah dialog yang panjang. Melalui dialog ini para pengarangnya bermaksud untuk mengatasi masalah akidah, yaitu sebab-sebab Allah menurunkan ujian-Nya kepada orang shalih dan hamba-hamba-Nya yang bertakwa kepada-Nya dan teguh di atas perintah-Nya. Dialog itu mengangkat masalah ini dengan bahasa filsafat dan bahasa syair. Oleh karena itu, orang-orang Yahudi menganggap bahwa Safar Ayyub adalah salah satu Safar hikmah.

Aneh jika Ayyub dalam Taurat adalah seorang pemarah dan pengeluh yang jauh dari pemahaman yang lurus, menolak berserah diri kepada qadha dan qadar, dan bahwasanya teman-temannya adalah orang-orang yang mengerti dan mengetahui sehingga berusaha sepenuh daya guna untuk memberi pengertian, pelajaran dan mengembalikannya ke jalan yang benar.

Kedustaan semua itu ditunjukkan oleh hadis yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam tentang kesabaran Ayyub dalam keteguhannya untuk menerima apa yang menimpanya tanpa berkeluh kesah, sampai-sampai seorang temannya menduga sesuatu pada diri Ayyub. Dia melihat lamanya ujian yang menimpa Ayyub sebagai bukti bahwa Ayyub telah melakukan dosa besar sehingga dia berhak menerima hukuman panjang ini. Ayyub membantah hal itu dengan menyebutkan kepada mereka tentang ketaqwaan dan kebersihan hatinya semasa dia sehat wal afiat.

Apa yang ditetapkan oleh hadis menunjukkan bahwa Ayyub lebih memahami, lebih bertaqwa, dan lebih mengetahui. Dia tidak bimbang. Bimbang ini tidak datang darinya, tetapi dari salah seorang temannya.

Adalah benar ketika Taurat menyebutkan bahwa Ayyub mengerti, bertaubat, dan kembali kepada Allah. Akan tetapi, apa yang disebutkan oleh Taurat bahwa Ayyub mengeluh, merasa sempit dan marah, ini tidaklah benar sama sekali. Taurat sesuai dengan Al-Qur’an dalam memberitakan bahwa Ayyub dulunya adalah orang yang kaya sebelum ditimpa musibah. Dia memiliki keluarga dan anak, dan bahwa Allah mengambil harta dan anaknya sebagaimana ujian menimpa jasadnya, lalu Allah mengembalikan keluarga, anak, serta hartanya kepadanya setelah Ayyub sembuh.

Akan tetapi, Taurat menyembunyikan hakikat manakala mengklaim bahwa Allah memberi ganti harta kepada Ayyub melalui hadiah dari saudara-saudara dan kawan-kawannya. Padahal, dari hadis Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam kita mengetahui bagaimana Allah melimpahkan harta kepada Ayyub dalam bentuk emas dan perak melalui awan. Kembalinya harta kepada Ayyub bukan melalui hadiah dari kerabat dan teman-temannya.

Taurat sesuai dengan Al-Qur’an dalam urusan penyakit yang menimpa tubuh Ayyub, yaitu dari setan. Namun perincian-perincian yang disebutkan oleh Taurat dalam perbincangan antara Allah dengan setan tidaklah benar. Hal ini menyelisihi kaidah-kaidah syariat yang pokok lagi baku. Allah tidak berbincang dengan setan setelah Dia mengusirnya dari rahmat-Nya, walaupun terkadang Dia mengizinkan untuk menimpakan penyakit kepada hamba-hamba-Nya karena sesuatu perkara yang diinginkan oleh-Nya.

Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis

  1. Keutamaan Nabiyullah Ayyub dalam kesabarannya atas ujian dari Allah; lenyapnya harta, keluarga, dan anak, ditambah penyakit dan menjauhnya teman-teman darinya.
  2. Akibat dari kesabaran adalah kebaikan dunia dan akhirat. Allah menyembuhkan Ayyub setelah penyakit yang berkepanjangan. Dia mengembalikan kekuatan dan kesehatannya, memberinya harta yang melimpah dan anak-anak shalih.
  3. Tingginya ta’dzim (pengagungan) Ayyub kepada Tuhan-nya. Dia menebus dengan bersedekah atas nama dua orang yang bersengketa dan keduanya menyebut nama Allah, karena takut nama Allah disebut kecuali dalam kebenaran.
  4. Besarnya kesetiaan istri Ayyub kepada suaminya dan pengabdiannya kepada Tuhannya. Begitu pula kedua temannya. Kesulitan hidup membuka kualitas orang, walaupun orang-orang dengan kualitas bersih semakin sedikit, akan tetapi di setiap masa dan kota akan selalu ada, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah.
  5. Kemampuan Allah untuk menghapus ujian dan menyembuhkan orang sakit hanya dalam sekejap, sebagaimana Allah mengembalikan kekuatan dan kesehatan kepada Ayyub.
  6. Kodrat Allah memberi rizki kepada hamba-hamba-Nya dengan cara yang tidak umum. Ayyub mendapatkan harta yang banyak dalam bentuk emas dan perak yang dibawa oleh dua awan dan belalang emas yang jatuh kepadanya.
  7. Allah memberi kemudahan dan jalan keluar bagi Ayyub dalam nadzarnya. DIa bisa memenuhi nadzarnya tanpa merugikan istrinya. Ibnul Qayyim menyatakan bahwa dalam syariat mereka tidak ada kaffarat(denda). Jika dalam syariat mereka terdapat kaffarat, niscaya Ayyub akan melakukannya tanpa memukul istrinya. Sumpah bagi mereka adalah sesuatu yang wajib, seperti hukuman had. Dan yang pasti adalah bahwa jika pelaku kesalahan yang mengakibatkan hukuman mempunyai alasan, maka hukumannya diringankan darinya dan istri Ayyub memiliki alasan. Dia tidak mengetahui bahwa yang berbicara dengannya adalah syetan. Dia hanya bermaksud untuk berbuat baik, maka dia tidak berhak untuk dihukum. Allah memberikan fatwa kepada Ayyub agar memperlakukannya sebagai orang yang berudzur, ditambah kasih saying dan kebaikannya kepada Ayyub. Maka Allah mengumpulkan untuknya antara memenuhi sumpah dan berlamah-lembut kepada istrinya yang baik yang mempunyai alasan dan tidak berhak untuk dihukum. (Ighatsatul Lahfan min Maqashidisy Syaithan, 2/97).
  8. Hadis ini membebaskan Ayyub dari kebohongan-kebohongan yang dinisbatkan oleh orang-orang Yahudi kepada Ayyub. Hadis ini meluruskan dan mengoreksi sejarah Ayyub yang mereka ubah dan selewengkan.

Nabi yang Membakar Desa Semut

November 11, 2008

Pengantar

Merusak tidak disukai oleh Allah, bahkan merusak pohon-pohon dan hewan-hewan juga tidak boleh. Oleh karena itu, Allah melarang berbuat kerusakan di muka bumi. Di antara pengrusakan itu adalah pengrusakan terhadap tanaman dan binatang. Pada hari kiamat seorang hamba akan ditanya tentang burung kecil yang dibunuhnya tanpa alasan yang benar.

Termasuk dalam hal ini adalah apa yang disampaikan oleh Rasulullah tentang teguran Allah kepada salah seorang nabi-Nya. Para nabi memiliki tempat tersendiri di sisi Allah, tetapi ini tidak menghalangi untuk meluruskan mereka jika tindak tanduk mereka keliru walaupun itu remeh. Benar, Allah menegur Nabi atas tindakannya yang membakar sebuah desa semut, hanya karena seekor semut menggigitnya.

Teks Hadis

Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Seorang nabi singgah di bawah pohon, dia digigit oleh seekor semut. Dia memerintahkan agar barang bawaannya dijauhkan dari bawah pohon itu. Lalu dia memerintahkan agar rumah semut itu dibakar. Maka Allah mewahyukan kepadanya, ‘Mengapa tidak hanya satu ekor semut saja?’”

Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah, “Bahwasanya seekor semut menggigit salah seorang Nabi, maka dia memerintahkan agar desa semut dibakar. Allah pun mewahyukan kepadanya, ‘Hanya karena kamu digigit oleh seekor semut lalu kamu membinasakan sebuah umat yang ber-tasbih.’”

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya dalam Kitab Bad’il Khalqi, bab jika lalat jatuh di bejana, 6/356, no. 3219.

Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabus Salam, bab larangan membunuh semut, 4/1759, no. 2241.

Penjelasan Hadis

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyampaikan kepada kita bahwa salah seorang nabi Allah singgah di bawah pohon. Sepertinya dia berteduh dari panas matahari untuk beristirahat dari lelahnya perjalanan. Di dekat dia berteduh terdapat sebuah desa semut. Mungkin singgahnya nabi ini bersama teman-temannya di bumi semut mengganggu mereka. Biasanya semut melawan orang yang mengganggunya dan merusak ketenangannya. Seekor semut datang dan menggigit nabi itu.

Seorang nabi adalah manusia. Dia pun marah seperti mereka. Kadang-kadang dia melakukan tindakan spontan yang membuatnya menyesal setelah itu dan dia disalahkan karenanya. Di antaranya adalah tindakan Nabi ini. Dia marah kepada seekor semut beserta teman-temannya. Dia bertekad menghukum seluruh desa semut. Dia memerintahkan pengikutnya agar menjauhkan barangnya dari bawah pohon itu, kemudian dia menyulut api di desa semut. Maka semut-semut yang sedang berjalan-jalan di desanya dan di sekelilingnya terbakar dan panas api itu sampai kepada semut-semut yang berada di lubangnya di dalam tanah.

Keadilan menuntut orang yang tidak bersalah, tidak boleh dihukum karena kesalahan orang lain. Yang menggigit nabi ini hanyalah seekor semut. Jika memang mesti dihukum, maka semestinya yang dihukum hanyalah semut tersebut bukan yang lain. Nabi kita mengajarkan kepada kita bahwa kita berhak melawan orang atau hewan yang menyerang kita, walaupun hewan itu adalah hewan jinak. Semut ini menyerang dan menggigit. Jika orang yang digigitnya menghukumnya, maka dia tidak disalahkan. Adapun menghukum semua semut yang ada di desa itu dan membakar mereka dengan api, ini bukanlah suatu keadilan.

Semut adalah umat ciptaan Allah. Mereka bertasbih dan mensucikan Allah seperti hewan-hewan yang lain. Manusia tidak boleh menyerangnya, kecuali jika mereka menyakitinya. Oleh karena itu, Allah menyalahkan nabi itu dan mencelanya karena dia menghukum melampaui batas. Dia menghukum semut yang tidak bersalah karena kesalahan seekor semut. Dia membunuh umat yang bertasbih kepada Allah. Dan Allah telah berfirman kepadanya untuk menegurnya, “Mengapa tidak hanya satu semut saja? Hanya karena kamu digigit oleh seekor semut, kamu membinaskan umat yang bertasbih kepada Allah.”

Orang yang terdidik untuk merasa bersalah jika membunuh seekor semut, dia tidak mungkin setelah itu membunuh manusia tanpa salah dan tanpa alasan yang benar. Dia akan menjadi contoh mulia yang menjaga nyawa hamba-hamba Allah sebagaimana dia menjaga tanaman dan hewan.

Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis

  1. Tidak boleh membunuh semut, sebagaimana tidak boleh membunuh binatang lain, kecuali binatang yang menyerang dan mengganggu. Dalam sebuah hadis terdapat larangan membunuh semut, tawon, hud-hud, dan shurad. (Shurad adalah burung berkepala besar dan berparuh besar, perutnya putih, punggungnya hijau, memangsa serangga dan burung kecil, pent.). Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad shahih di atas syarat Bukhari Muslim (Syarah Shahih Muslim An-Nawawi, 14/399). Dikecualikan dari larangan membunuh binatang adalah binatang fawasiq yang berjumlah lima, baik dibunuh di daerah halal maupun di daerah haram. Fawasiq yang berjumlah lima ini sebagaimana dalam hadis riwayat Bukhari dalam Shahih-nya adalah tikus, kalajengking, burung gagak, rajawali, dan anjing penggigit. (Shahih Bukhari, 6/355, no. 3314. Selain kelima hewan fawasiq ini Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam juga memerintahkan membunuh cicak. Beliau menyatakan bahwa membunuhnya adalah berpahala. (lihat hadis-hadis yang memerintahkan membunuhnya dalam Shahih Muslim, 4/1757, no. 2237-2240). Begitu juga beliau memerintahkan membunuh ular, kecuali ular rumah yang tidak dibunuh hingga diperingatkan tiga kali; jika setelah itu masih terlihat di rumah, maka bunuhlah. Dan dikecualikan dari ini adalah dua macam ular, yaitu ular berekor pendek dan ular dengan dua garis putih di punggungnya. Keduanyadibunuh secara mutlak walaupun tinggal di rumah, karena keduanya bisa menyebabakna keguguran dan kebuataan. (lihat hadis-hadis tentang ular dalama Shahih Muslim).
  2. Membakar makhluk hidup tidak dibolehkan dalam syariat kita. Nabi menjelaskan alasan larangan ini, yaitu bahwa yang berhak mengadzab dengan api hanyalah pemilik api. Dan ini mungkin dibolehkan di dalam syariat sebelum kita, karenanya Nabi ini membakar desa semut.
  3. Semut bertasbih kepada Allah sebagaimana dinyatakan dalam hadis. Allah telah memberitakan bahwa segala sesuatu bertasbih dengan memuji Allah, “Dan tidak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.” (Al-Isra: 44).
  4. Hadis ini menyampaikan bahwa semut adalah sebuah umat. Allah telah memberitakakan bahwa makhluk-makhluk, burung-burung dan hewan-hewan, semuanya adalah umat seperti kita. “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan umat-umat juga seperti kamu.” (Al-An’am 38)

Kajian-kajian modern telah sampai pada hakikat ini melalui pengamatan, penelitian, dan pemikiran.

Nabi yang Takjub kepada Kaumnya

November 11, 2008

Pengantar

Inilah kisah seorang nabiyullah yang diberi umat yang banyak jumlahnya. Dari umatnya itu dia membentuk pasukan yang besar, banyak jumlahnya, dan tangguh. Apa yang dicapai oleh umatnya sangatlah menakjubkan, begitu pula kekuatannya. Dia berkata, “Siapa yang bisa melawan dan menghadang mereka?”

Maka Allah membinasakan tujuh puluh ribu dari kaumnya akibat takjub yang ada padanya.

Teks Hadis

Imam Ahmad meriwayatkan dari Suhaib berkata, apabila Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam shalat, beliau membisikkan sesuatu yang tidak aku mengerti dan tidak menjelaskan kepada kami. Beliau bertanya, “Apakah kalian memperhatikanku?” Kami menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku teringat salah seorang nabi yang memiliki pasukan dari kaumnya –dalam riwayat lain, ‘membanggakan umatnya’- dia berkata, ‘Siapa menandingi mereka? Atau, siapa yang bisa melawan mereka? Atau ucapan seperti itu.’

Maka diwahyukan kepadanya, ‘Pilihlah satu dari tiga perkara untuk kaummu: Kami biarkan musuh dari selain mereka menguasai mereka, atau kelaparan atau kematian.’ Maka Nabi itu bermusyawarah dengan kaumnya dan mereka berkata, ‘Engkau adalah nabiyullah, engkau yang memutuskan. Pilihlah untuk kami.’ Lalu dia mendirikan shalat setiap kali mereka sedang menghadapi urusan penting. Mereka mengatasinya melalui shalat. Maka dia shalat sesuai dengan kehendak Allah.”

Nabi melanjutkan, “Kemudian dia berkata, ‘Ya Rabbi, adapun musuh dari selain mereka, maka jangan. Adapun kelaparan, maka jangan. Akan tetapi aku memilih kematian.’ Lalu kematian dikirim kepada mereka, dan yang mati di kalangan mereka sebanyak tujuh puluh ribu.” Nabi bersabda, “Bisikanku yang kalian perhatikan itu adalah aku berkata, ‘Ya Allah, dengan-Mu aku berperang, dengan-Mu aku melawan dan tiada daya dan kekuatan kecuali Allah.’”

Takhrij Hadis

Syaikh Albani dalam Silsilah Al-Ahadis Ash-Shahihah, 5/588 no. 2455. berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad (6/16), Abdurrahman bin Mahdi menyampaikan kepada kami, Sulaiman bin Al-Mughirah menyampaikan kepada kami dari Tsabit bin Abdurrahman bin Abi Laila dari Suhaib berkata, aku berkata, “Sanad ini shahih di atas syarat Syaikhain, didukung oleh riwayat Ma’mar dari Tsabit Al-Bunani yang sejenis tanpa doa, yang di akhir hadis dan riwayat lain dan tambahannya adalah tambahannya.” Dia menambahkan, “Dan jika dia menyampaikan hadis ini, dia pun menyampaikan hadis yang lain bahwa ada seorang raja dan raja itu memiliki seorang dukun..” hadis selengkapnya.

Diriwayatkan oleh Tirmidzi (2/236-237). Diriwayatkan oleh Muslim (8/229-231) dan Ahmad dalam riwayatnya (1/16-17) dari jalan Hammad bin Salamah: Tsabit menyampaikan kepada kami tanpa hadis yang pertama, dan Tirmidzi berkata, “Hadis hasan gharib.”

Aku berkata, “Dan sanadnya di atas syarat Syaikhain juga.”

Hadis ini disebutkan pula oleh Syaikh Nashir (Al-Bani) dalam Ash-Shaihah (3/50), no. 1061. Dia berkata tentang takhrijnya, “Diriwayatkan oleh Ibnu Nashr dalam Ash-Shalah (2/35) Ishaq bin Ibrahim menyampaikan kepada kami, Abu Usamah memberitakan kepada kami, Sulaiman bin Al-Mughirah menyampaikan kepada kami dari Tsabit Al-Bunani dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Suhaib, lalu dia menyebutkan hadisnya.

Aku berkata, “Ini adalah sanad shahih di atas syarat Syaikhani.”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (4/33, 6/16) dari dua jalan yang lain dari Sulaiman bin Al-Mughirah dan dari jalan Hammad bin Salamah. Tsabit menyampaikan kepada kami hadis senada dengannya, dan di dalamnya terdapat tambahan bahwa shalat itu adalah shalat shubuh, dan berbisik itu terjadi sesudah shalat pada hari-hari perang Hunaian. Dan Darimi meriwayatkan darinya (2/217) ucapannya, “Ya Allah, dengan-Mu aku berusaha, dengan-Mu aku melawan, dan dengan-Mu aku berperang.”

Dan sanad keduanya shahih di atas syarat Muslim.

Penjelasan Hadis

Rasulullah memberitakan kepada kita di dalam hadis ini kisah tentang seorang nabiyullah dengan umat yang besar jumlanya dan tangguh. Dia melihat pemberian Allah ini dan takjub dengan apa yang dilihatnya. Dalam dirinya muncul kekaguman bahwa tidak ada yang mampu menghadapi umatnya, tidak ada yang bisa mengalahkannya.

Semestinya orang yang menduduki kursi kenabian tidak boleh bersikap demikian, karena ujub dengan diri sendiri atau dengan anak atau harta atau umat adalah penyakit yang buruk. Seorang mukmin dalam menghadang musuhnya tidak tertipu oleh bala tentaranya yang banyak, tidak kecut dengan bala tentaranya yang sedikit, karena kemenangan hanya dari Allah semata. “Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah.” (Ali Imran: 126). “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 249).

Kadangkal membanggakan jumlah yang besar justru menjadi penyebab kekalahan. “Dan (ingatlah) peperangan Hunaian, yaitu pada waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (At-Taubah: 25).

Nabi ini dihukum pada kaumnya. Allah meminta kepadanya untuk memilih bagi umatnya satu dari tiga perkara. Dibiarkannya musuh dari selian mereka menguasasi mereka atau kelaparan atau kematian.

Aku bertanya pada diriku sendiri, rahasia apakah gerangan sehingga nabi itu disuruh memilih satu dari tiga perkara. Maka aku mendapati bahwa satu dari tiga hal itu bisa melemahkan, bahkan melenyapkan kekuatan sebuah umat. Ia menghilangkan ujub yang ada di hati nabi itu dan umatnya. Jika Allah menguasakan musuh dari selain mereka terhadap mereka, maka musuh itu akan menghinakan dan merenggut kehormatan mereka. Jika kelaparan yang menimpa, maka kekuatan mereka lenyap dan mudah untuk dikalahkan. Jika mati, maka jumlah mereka berkurang.

Memilih satu dari tiga perkara adalah perkara yang membingungkan dan perlu pertimbangan yang matang. Nabi ini telah berunding dengan umatnya dan mereka menyerahkan perkara itu kepadanya, karena dia adalah nabiyullah. Para nabi diberi petunjuk dan langkahnya adalah lurus.

Pilihan nabi ini cukup tepat. Dia memilih kematian, bukan kelaparan atau kekuasaan musuh atas mereka. Jika seseorang yang hanya menimbang dengan tolak ukur dunia, niscaya dia memilih lain dari apa yang dipilihnya oleh nabi itu.

Mungkin sebagian orang yang berpikiran dangkal berpendapat bahwa pilihan tepat adalh dikuasakannya musuh atas mereka, karena merka akan tetap hidup walaupun musUh bisa saja membunuh sebagian dari mereka. Akan tetapi nabi ini tidak rela jika kaumnya dihina dan diinjak-injak. Dan pembunuhan tidak bisa terelakkan jika musuh mereka menguasai mereka.

Kelaparan adalah perkara berat. Bisa jadi kelaparan menjadi penyebab kalahnya mereka dari musuh mereka, bahkan mungkin banyak yang mati karenanya.

Memilih kematian adalah memilih sesuatu yang pasti datang. Siapa yang hari ini tidak mati, maka dia akan mati besok atau lusa, tidak ada tempat berlari dan berlindung darinya.

Nabi ini memilih kematian buat umatnya. Orang-orang yang kembali kepada Tuhan mereka diharapkan bisa diterima di sisi-Nya, dan orang-orang yang hidup sesudah mereka diharapakan bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada mereka. Bisa jadi setelah mereka mati, Allah memberi ganti dalam jumlah yang banyak jika Dia berkehendak. Segala perkara berada di tangan Allah.

Nabi ini shalat. Begitulah para nabi dan orang-orang shaleh manakala menghadapi perkara besar, mereka berdiri shalat. Maka dia shalat sebagaimana dikehendaki oleh Allah untuk shalat. Lalu Allah memberinya taufik untuk memilih perkara yang paling ringan. Dia berkata kepada Tuhannya, “Adapun musuh dari selain mereka, maka jangan. Kelaparan juga jangan, akan tetapi kematian.”

Kematian menyebar di kalangan mereka seperti api yang menyebar di hamparan rumput kering. Satu persatu wafat. Kematian menjemput dan membinasakan generasi yang tumbuh. Dalam satu hari ada tujuh puluh ribu yang wafat.

Akibat dari ujub yang ada pada nabi ini kepada kaumnya sangatlah mengerikan. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam khawatir seperti ini bisa menimpa para sahabatnya. Maka beliau berbisik setelah shalat, “Ya Allah, dengan-Mu aku berusaha, dengan-Mu aku melawan, dan dengan-Mu aku berperang.” Dan beliau mengingat kisah nabi ini, maka beliau berdoa dengan doa seperti di atas kepada Allah, mengumumkan ketidakmampuan dan ketidakberdayaan serta hanya bergantung kepada kekautan dan daya para sahabatnya. Dalam menghadapi musuh nabi berperang kepada Allah semata, tanpa selain-Nya. Hanya dari-Nya pertolongan dan kemenangan, dan tiada daya dan kekuatan kecuali hanya dengan-Nya.

Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis

1. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memberi pengertian kepada para sahabatnya tentang sebab-sebab kelemahan dan kebinasaan, di antaranya adalah ujub terhadap diri sendiri.

2. Akibat ujub sangatlah mengerikan, sebagaimana yang terjadi pada umat Nabi tersebut. Hal itu karena ujub melemahkan tawakal dan berpijak kepada Allah, serta menjadika seseorang hanya bergantung keapa sebab-sebab materi.

3. Hendaknya para pemimpin, para panglima dan para pengendali urusan harus waspada. Jangan sampai Allah menurunkan apa yang telah Allah timpakan kepada kaum nabi ini. Pada zaman ini kita sering melihat dan mendengar banyakanya kekaguman para pemimpin dan panglima terhadap tentara dan pengikut mereka.

4. Bisa jadi sebab turunnya ujian adalah sesuatu yang samar, hanya diketahui oleh orang yang mengerti agama Allah. Musibah ini bisa menimpa kaum shalih yang berjihad, sementara mereka tidak mengetahui dari mana sebabnya.

5. Adanya umat yang baik dalam jumlah besar sebelum kita. Pada kalangan mereka terdapat orang-orang yang berperang dan berjihad di jalan Allah. Adalm rentang waktu yang pendek, jumlah orang yang mati mencapai tujuh puluh ribu orang.

6. Seorang muslim dianjurkan untuk melaksanakan shalat jika mendhadapi suatu perkara besar. Semoga Allah membimbingnya kepada pilihan yang paling lurus. Termasuk hal ini adlah istikharah yang disyariatkan leh Allah setelah dua rakaat.

7. Dalam perkara yang diharuskan memilih seorang muslim hendaknya tidak tergesa-gesa. Dia harus bermusyawarah seperti yang dilakukan oleh Nabi ini. Dia harus memikirkan dengan matang, menimbang antara pilihan-pilihan yang ada. Dia harus berdoa kepada Allah agar memberinya taufik sehingga bisa memilih dengan benar.

Sumber: diadaptasi dari DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Shahih Qashashin Nabawi, atau Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa, terj. Izzudin Karimi, Lc. (Pustaka Yassir, 2008), hlm. 205-211.

Isa Mendustakan Kedua Matanya dan Membenarkan Pencuri

November 11, 2008

Pengantar

Kisah ini hanya sepotong dan pendek, tetapi berharga sekali. Kisah ini menunjukkan sejauh mana para Nabi dan Rasul dalam urusan ta’dzim kepada Allah. Isa melihat seorang yang mencuri, maka Isa mendustakan kedua matanya dan mempercayai pencuri itu.

Teks Hadis

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih masing-masing dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam beliau bersabda, “Isa bin Maryam melihat seorang laki-laki mencuri. Isa bertanya kepadanya, ‘Apakah kamu mencuri?’ Dia menjawab, ‘Tidak mungkin, demi Allah yang tidak ada Tuhan yang hak kecuali Dia.’ Isa berkata, ‘Aku beriman kepada Allah dan aku mendustakan mataku’.”

Takhrij Hadis

Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Ahadisil Anbiya bab Firman Allah, “Dan ceritakanlah kisah Maryam di dalam Al-Qur’an.” (Maryam: 16) (6/478, no. 3443).

Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dalam Kitabul Fadhail, bab keutamaan Isa (4/1838), no. 2366. Hadis ini dalam Syarah An-Nawawi, 15/506.

Penjelasan Hadis

Para Rasul dan Nabi adalah manusia dengan cetakan tersendiri, khususnya dalam hal ta’dzim kepada Tuhan mereka dan pensucian mereka kepada-Nya. Nabiyullah Isa Alaihis Salam melihat dengan kedua matanya seorang pencuri yang sedang mencuri namun dia mendustakan kedua matanya dan mempercayai pencuri ketika dia bersumpah dengan nama Allah yang tidak Tuhan yang hak kecuali Dia, bahwa dirinya tidak mencuri. Isa bukan orang bodoh yang tidak bisa membedakan antara orang jujur dengan pendusta, akan tetapi Allah di hati Isa adalah lebih agung dari sekedar Dia digunakan oleh seseorang untuk bersumpah secara dusta.

Pencuri ini berhasil lolos dari Isa. Akan tetapi mana mungkin dia akan lolos dari adzab dan balasan Allah? Para rasul dan nabi tidak diutus sebagai polisi. Allahlah yang akan mengawasi, mengurusi, dan menghisab. Allah tidak membebani para rasul –lebih-lebih jika mereka bukan pemimpin dan hakim- untuk menghisab dan menghukum manusia.

Sumber: diadaptasi dari DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Shahih Qashashin Nabawi, atau Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa, terj. Izzudin Karimi, Lc. (Pustaka Yassir, 2008), hlm. 212-213.

Kisah Musa dan Malaikat Maut

November 11, 2008

Musa adalah orang yang punya kedudukan (terkemuka) dan pemimpin yang mudah berinspirasi, sehingga mampu mengendalikan umat yang keras tabiatnya, yang banyak ragu-ragu dalam menghadapi berbagai perkara seperti kepemimpinan, kebijaksanaan dan bimbingan. Musa memiliki kekhususan tersendiri serta mempunyai kemampuan yang tinggi, sehingga barang siapa yang memiliki sifat semisalnya, maka tingkah lakunya dimuliakan oleh yang lainnya, dikarenakan kepribadian sesuai dengan tingkah lakunya.

Oleh karena itu, ketika malaikat maut datang kepada Musa, kemudian meminta izin untuk mencabut nyawanya, maka Musa menampar malaikat tersebut hingga rusak matanya (mata manusia). Malaikat maut mendatangi Musa dalam wujud seorang laki-laki, kemudian Musa diberi pilihan antara berpindah ke sisi Tuhannya atau tetap hidup di dunia dalam masa yang lama, sebelum datang kepadanya kematian. Akan tetapi Musa memilih berpindah ke sisi Tuhannya, atas sulitnya kehidupan dunia dan ujiannya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memenuhi permohonannya. Kemudian mendekatkannya ke tanah suci sejauh lemparan batu. Sehingga kuburannya tertelah di sebelah timur tanah suci.

Teks Hadis

Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah berkata, “Malaikat maut diutus kepada Musa. Ketika dia datang, Musa menamparnya. Lalu malaikat maut kembali kepada Tuhannya dan berkata, ‘Engkau telah mengutusku kepada seorang hamba yang menolak mati.’ Lalu Allah mengembalikan matanya (yang rusak karena tamparan Musa). Allah berfirman kepadanya, ‘Kembalilah kepada Musa. Katakan kepadanya agar dia meletakkan tangannya di punggung sapi jantan, maka bulu sapi yang tertutup oleh tangannya itulah sisa umurnya. Satu bulu satu tahun.’ Musa berkata, ‘Ya, Rabbi setelah itu apa?’ Malaikat menjawab, ‘Maut.’ Musa berkata, ‘Sekarang aku pasrah.’ Maka Musa memohon kepada Allah agar didekatkan kepada tanah suci sejauh lemparan batu.” Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Seandainya aku di sana, niscaya aku tunjukkan kuburannya kepada kalian yang berada di sisi jalan di dataran berpasir merah yang bergelombang.”

Dalam riwayat Muslim, “Malaikat maut mendatangi Musa dan berkata, ‘Jawablah panggilan Tuhanmu.’ Rasulullah bersabda, ‘Musa menempeleng mata malaikat maut hingga membuatnya rusak. Lalu malaikat maut kembali kepada Allah dan berkata, ‘Engkau telah mengutusku kepada seorang hamba-Mu yang tidak mau mati. Dia telah merusak mataku’.’ Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, ‘Maka Allah mengembalikan matanya dan berfirman kepadanya, ‘Kembalilah kamu kepada hamba-Ku, katakan kepadanya, apakah kamu ingin hidup? Jika kamu ingin hidup, maka letakkanlah tanganmu di punggung sapi jantan, rambut yang tertutup oleh tanganmu itulah umurmu yang tersisa. Satu rambut, satu tahun.’ Musa bertanya, ‘Seterusnya apa?’ Malaikat menjawab, ‘Kemudian kamu mati.’ Musa berkata, ‘Sekarang, ya Rabbi dari dekat.’ Musa berkata, ‘Matikanlah aku di dekat tanah suci sejauh lemparan batu’.’ Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Demi Allah seandainya aku di sana, niscaya aku tunjukkan kuburnya kepada kalian di samping jalan di pasir merah.”

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Jami’ul Ushul, bab orang yang ingin dikubur di tanah suci, 3/206, no. 1339; dalam Kitab Ahadisil Anbiya’, bab wafat Musa, 6/440, no. 3407. Bukhari tidak secara nyata menyatakan penisbatan Abu Hurairah terhadap hadis kepada Rasulullah. Dan Bukhari secara nyata menyebutkannya di riwayatnya dalam Kitab Ahadisil Anbiya’. Bukhari berkata, ‘Ma’mar memberitakan kepada kami dari Hammam, Abu Hurairah menyampaikan kepada kami dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam.

Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabul Fadhail bab keutamaan Musa, 4/1842.

Penjelasan Hadis

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memberitakan kepada kita bahwa di antara kemuliaan para Nabi di sisi Allah adalah bahwa mereka diberi pilihan menjelang kematian, antara hidup di dunia atau berpindah ke Rafiqil A’la. Dalam beberapa hadis shahih dari Aisyah bahwa Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam diberi pilihan, dan beliau memilih Rafiqil A’la.

Allah mengutus malaikat maut yang menjelma dalam wujud seorang laki-laki kepada Musa. Malaikat meminta agar Musa menjawab panggilan Tuhannya. Ini berarti bahwa ajalnya telah tiba dan saatnya telah dekat. Musa memiliki temperamental yang cukup tinggi, karenanya dia menempeleng wajah malaikat maut dan merusak matanya(mata manusia). Karena seandainya dia dalam wujud aslinya, yakni malaikat, niscaya Musa tidak akan mampu menempelengnya. Tidak akan bisa!

Malaikat maut kembali kepada Allah untuk mengadukan apa yang diperolehnya dari Musa. Lalu Allah menyembuhkan matanya dan menyuruhnya kembali kepada Musa, agar meletakkan tangannya di atas punggung sapi, kemudian rambut-rambut yang tertutup oleh tangannya itu dihitung dan satu helai rambut satu tahun. Maka ajal Musa sama dengan jumlah rambut itu. Dengan itu Musa mendapatkan kehidupan yang panjang. Jika Musa melakukan hal itu, niscaya dengan tidak menutup kemungkinan dia tetap hidup sampai hari ini.

Akan tetapi, manakala Musa bertanya kepada malaikat maut tentang apa yang ada di balik kehidupan panjang tersebut, dia dijawab, ‘Maut.” Maka Musa memilih yang dekat. Apa yang ada di sisi Allah bagi para rasul dan nabi-Nya, serta hamba-hamba-Nya yang shalih, adalah lebih baik dan lebih kekal.

Jika roh para syuhada berada di perut burung hijau yang berterbangan di kebun-kebun surga, memakan buah-buahnya, minum dari sungainya dan berlindung di lampu-lampu yang bergantung di atap ‘Arasy Allah, maka kehidupan para nabi dan rasul adalah di atas semua itu. Apa yang didapat oleh Musa seandainya dia hidup sampai hari ini, dia pasti memikul kesulian-kesulitan dunia dan ujian-ujiannya. Dia akan menyaksikan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi sepanjang sejarah yang membuat pikiran sibuk dan hati bersedih. Bukankah lebihbaik dia berada di Rafiqil A’la dengan para rasul dan para nabi menikmati kenikmatan surga, daripada hidup di rumah kesengsaraan dan ujian.

Musa diminta untuk memilih dan dia telah memilih kembali kepada Allah daripada kehidupan yang lama dan panjang. Apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal dan akhirat lebih baik daripada dunia.

Musa memohon kepada Allah pada waktu ruhnya dicabut agar didekatkan kepada tanah yang suci sejuah lemparan batu.

Permintaan Musa ini adalah wujud kecintaannya kepada tanah suci yang bercokol di dalam jiwanya, sehingga dia meminta dikubur di perbatasannya, dekat dengannya. Tetapi Musa tidak meminta kepada Allah agar mematikannya di tanah suci, karena dia mengetahui bahwa Allah mengharamkannya atas generasi di mana Musa berasal. Ini sebagai hukuman atas ketidaktaatan mereka kepada perintah Tuhan mereka agar masuk ke tanah suci seperti yang telah Allah tulis untuk mereka. Mereka berkata, “Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (Al-Maidah: 24). Lalu Allah menulis atas mereka kesesatan selama empat puluh tahun di gurun Sinai.

Allah menjawab doa Musa. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah menyampaikan kepada kita bahwa kuburan Musa terletak di pinggiran tanah suci di dataran pasir merah. Seandainya beliau di sana, niscaya beliau menunjukkan tempat itu kepada sahabat-sahabatnya.

Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis

  1. Hadis ini menunjukkan bahwa sebelum nyawa para nabi dicabut, mereka diberi pilihan antara terus hidup atau berpindah kepada rahmatullah, sebagaimana Musa diberi pilihan. Aisyah telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda pada waktu beiau sakit menjelang wafatnya, “Ya Allah, Rafiqul A’la.” Aisyah mengerti bahwa beliau diberi pilihan maka beliau memilih.
  2. Kemampuan malaikat menjelma dalam wujud manusia sebagaimana malaikat maut yang mendatangi Musa dalam wujud manusia.
  3. Kematian adalah hak dan pasti. Jika ada yang lolos dari maut, tentulah mereka adalah para nabi dan rasul.
  4. Kedudukan Musa di sisi Allah. Musa menampar malaikat maut hingga rusak matanya. Kalau saja bukan karena kemuliaan Musa di hadapan Allah, mungkin malaikat akan membalasnya dengan keras.
  5. Keberadaan kubur Musa di tepi perbatasan tanah suci, dan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam mengetahui tempat kuburnya. Beliau menunjukkan sebagian alamat kuburnya, yaitu di tepi jalan di tanah pasir merah.
  6. Keinginan Musa agar kuburnya dekat dengan tanah suci, dan diperbolehkan saja bagi siapa saja yang ingin mati di tanah suci.
  7. Tanah suci yang diberkahi memiliki batasan. Musa meminta kepada Allah agar mendekatkan kuburnya darinya sejauh batu dilempar. Karenanya, Musa di kubur di luar, di pinggirannya.

Sumber: diadaptasi dari DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Shahih Qashashin Nabawi, atau Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa, terj. Izzudin Karimi, Lc. (Pustaka Yassir, 2008), hlm. 122-126.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.